Opini

ChatGPT dan Pustakawan: Musuh atau Mitra?

390views

Oleh Arief D Tresnawan

DI AWAL tahun 2023  di kalangan pustakawan ramai dibicarakan tentang suatu aplikasi pintar yang dapat menjawab berbagai pertanyaan dengan cepat dan nyaris sempurna, seperti seorang pustakawan menjelaskan informasi yang dibutuhkan kepada pemustakanya. Aplikasi ini membuat gundah para pustakawan. Bagaimana tidak gundah, aplikasi ini bahkan bisa mengetahui dan menjelaskan isi suatu buku yang ditanyakan. Bisa menyarankan buku terbaik di bidang ilmu tertentu, dan lain sebagainya yang biasa dilakukan oleh pustakawan, terutama pustakawan referensi. Lalu timbul pertanyaan di benak para pustakawan. Apakah aplikasi pintar ini dapat menggusur peran dan fungsi pustakawan di kemudian hari?

Aplikasi yang sedang diperbincangkan khususnya oleh para pustakawan ini bernama ChatGPT, kependekan dari Chat Generative Pre-Trained Transformer.  ChatGPT adalah sebuah chatbot berbasis teks yang dikembangkan oleh OpenAI, yakni sebuah organisasi riset kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)  yang didirikan oleh beberapa tokoh terkenal di bidang teknologi, termasuk di dalamnya Elon Musk dan Sam Altman.  Chatbot merupakan salah satu contoh aplikasi yang terkemuka dari teknologi pemrosesan bahasa alami (Natural Processing Language) yang mampu memahami Bahasa manusia dan merespons dengan cara yang alami. Itulah sebabnya ketika berinteraksi dengan ChatGPT kita seolah-olah sedang berkomunikasi melalui chat dengan seorang manusia, bukan dengan robot atau sebuah aplikasi.

OpenAI didirikan pada tahun 2015 dengan  tujuan mengembangkan teknologi kecerdasan buatan untuk kebaikan umum. Salah satu fokus utama proyek OpenAI adalah mengembangkan teknologi NLP yang lebih maju. Teknologi ini memungkinkan mesin untuk dapat memahami bahasa manusia dan memberikan respons dengan cara yang lebih alami dan manusiawi.

Lalu bagaimana ChatGPT ini bisa menjawab berbagai pertanyaan yang diberikan  dengan cepat juga lengkap? Seperti halnya manusia, ChatGPT ini belajar, memperoleh,  dan menambah ilmu pengetahuannya dari berbagai sumber dari internet. Ia menambah pengetahuannya dari berbagai jenis teks seperti buku, peer reviewed jurnal-jurnal , berita, forum-forum diskusi  dan berbagai sumber lainnya. Pengetahuan ini diperoleh dengan teknik deep learning . Fakta-fakta  yang masuk disimpan di memori mesin ini. Ia juga dilatih/ diajarkan aturan-aturan melalui proses pelatihan.

Ketika ada pertanyaan yang masuk, ia akan memproses pertanyaan ini dengan cara  memahami pertanyaan dari pengguna secara keseluruhan dan akan mencari tahu apa maksud pertanyaan pengguna tersebut. Proses selanjutnya adalah analisis sintaksis kalimat. Ia akan memecah kalimat yang diterima menjadi bagian yang lebih kecil, seperti kata dan frasa, juga menentukan bagaimana bagian-bagian yang lebih kecil itu saling terkait dan membentuk makna yang lengkap.

Dari sini, ia melanjutkan dengan pemrosesan bahasa alami, yaitu untuk memahami makna dari kata-kata dan frasa dalam kalimat yang ditanyakan pengguna. Proses ini melibatkan memahami makna kata-kata secara individual maupun secara konteks kalimat. Setelah memahami seluruh pertanyaan dengan benar, ia akan mencari jawaban yang tepat dengan mencocokan pertanyaan yang diminta dengan informasi yang tersedia dalam basis data yang dimilikinya.

Setelah menemukan jawaban yang tepat,  ia akan mengirimkan jawaban kepada pengguna persis seperti bahasa manusia. Sehingga tidak sadar, bahwa kita sebenarnya sedang melakukan chat dengan sebuah aplikasi, bukan dengan manusia.

Musuh atau Mitra Pustakawan?

Penulis mencoba beberapa pertanyaan pada ChatGPT, mulai dari pertanyaan yang mudah sampai kepada pertanyaan yang dianggap sulit. Harus diakui, ia merupakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang mumpuni. Ia dapat menjawab berbagai pertanyaan dengan cepat dan lengkap dengan penggunaan bahasa yang baik dan santun. Pertanyaan yang cukup sulit pun mampu ia jawab dengan cepat dan lengkap, seperti “Buku apa yang bisa direkomendasikan untuk memperdalam keterampilan komunikasi?” Salah satu buku yang ia sarankan adalah buku Dale Carnegie berjudul “How to Win Friends and Influence People“. Demikian juga ketika ditanyakan buku tentang pemasaran yang wajib dibaca masa kini. Salah satunya ia menyarankan buku Philip Kotler berjudul “Kotler’s Marketing 4.0: Moving from Traditional to Digital”. Acungi jempol untuk jawaban ini.

Namun demikian, ia tidak sepenuhnya juga bisa menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan. Terutama kalau ditanya tentang definisi istilah tertentu beserta rujukan apa yang ia pakai. Seperti ketika ditanya “Apa yang dimaksud dengan kinerja auditor?” Ia  akan bisa dengan  cepat memberikan jawaban dengan penjelasan yang lengkap. Tetapi ketika dikejar dengan pertanyaan susulan “Definisi di atas merujuk pada buku apa dan karya siapa?” ia menjawab “Definisi yang saya berikan sebelumnya bukan merujuk pada buku atau karya siapa pun. Definisi tersebut adalah penjelasan umum mengenai kinerja seorang auditor dalam menjalankan tugas auditnya”. Berkaitan dengan pertanyaan dan jawaban tersebut, tentu pustakawan bisa memberikan jawaban yang lebih lengkap termasuk dengan sumber referensi yang dirujuknya.

Dari uji coba berbagai pertanyaan tersebut, ChatGPT  tidak sepenuhnya dapat memberikan jawaban yang diharapkan. Tetapi berbagai jawaban yang ia berikan dapat dijadikan dasar yang masih harus dilengkapi oleh manusia, dalam hal ini oleh pustakawan.

Bagaimana dengan pustakawan? Salah satu tugas pustakawan adalah memberikan layanan informasi kepada pemustakanya. Dari beberapa percobaan dengan cara memberikan berbagai pertanyaan kepada ChatGPT, dapat disimpulkan bahwa ChatGPT dapat dijadikan alat bantu penelusuran informasi bagi pustakawan dalam melaksanakan tugasnya. Ia bisa menjadi mitra pustakawan dalam melaksanakan tugasnya. Ia bisa menjadi asisten yang handal dalam memberikan layanan kepada pemustaka, terutama bagi pustakawan referensi, yakni memberikan informasi yang diperlukan oleh para pemustakanya.  Bukan sebagai musuh yang akan menggusur tugas dan fungsi pustakawan.

Yang perlu diperhatikan pustakawan adalah terus mengupdate dan mengupgrade pengetahuan serta keterampilannya supaya tidak ketinggalan dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat saat ini dan saat mendatang.***

*Penulis adalah Kepala UPT Perpustakaan Unisba

Leave a Response