Opini

ChatGPT Mengancam Kita?

486views

Kolom Sosial Politik
Oleh: Emeraldy Chatra

ELON Must, tokoh utama mobil listrik Amerika Serikat dengan merek Tesla baru saja membuat mata dunia tertuju pada produk barunya. Tapi kali ini produknya cukup jauh kaitannya dengan mobil. Bersama Sam Altman ia mendirikan laboratorium OpenAI yang mengembangkan ChatGPT, sebuah aplikasi kecerdasan buatan.

ChatGPT dianggap sebuah lompatan eksponensial dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Ia mampu menjawab berbagai pertanyaan sulit dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Sunda. Dapat pula membuat website dengan sangat cepat, seperti tidak berpikir.

Kehadiran ChatGPT dirasa menakutkan karena kemampuannya yang luar biasa dapat menjadi ancaman bagi sejumlah pekerjaan. Ia berpotensi menimbulkan gelombang pengangguran baru. Kali ini yang dibuat meriang justru mereka yang dianggap pekerja level atas, seperti programer, dosen, peneliti, dan para profesional lain.

Seberapa jauh sebenarnya ancaman ChatGPT? Ini perlu didiskusikan.

Pada hakekatnya tidak ada teknologi yang dapat menanggulangi efek negatif yang ditimbulkannya. Teknologi tetap saja mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah baru.

Teknologi lengan robot, misalnya, menyebabkan banyak pekerja manual kehilangan pekerjaan. Pengangguran akibat penggunaan lengan robot itu masalah bagi pekerja-pekerja terampil di sektor otomotif dan aneka industri lainnya. Satu lengan robot dapat menggantikan sekian belas bahkan puluhan pekerja terampil.

Contoh lain, sekarang orang dapat menikmati mobil listrik yang efisien berkat penemuan teknologi baterai yang canggih. Apakah benar teknologi baterai ini dapat mengeluarkan kita dari masalah energi?

Ternyata tidak. Sejumlah masalah yang terkait baterai, mulai dari proses penambangan material pembuat baterai seperti nikel dan kobalt, sampai ke limbahnya, melahirkan masalah serius. Penambangan nikel dan kobalt ternyata merusak kesehatan penambang.

Listrik yang digunakan untuk mencas baterai tetap saja mengonsumsi batu bara atau bahan lain yang menyebabkan polusi udara. Baterai yang sudah apkir menjadi ancaman bagi lingkungan karena menjadi limbah beracun yang berbahaya.

Lapangan pekerjaan dan lingkungan hidup adalah dua domain utama yang hampir selalu terancam setiap kali ditemukan teknologi baru. Pekerjaan lama menghilang, dan orang yang bekerja di bidang itu kehilangan mata pencarian. Tidak ada teknologi yang bebas limbah, karena itu ancaman terhadap lingkungan tidak berhenti.

Apakah dengan demikian kita perlu bermusuhan dengan teknologi baru? Hemat saya, sekalipun berat akibatnya, kita tidak mesti memasang sikap bermusuhan, tapi harus tetap waspada. Argumen saya begini:

Sepanjang masih ada masalah, berarti masih ada yang harus dikerjakan. Di sana ada lapangan pekerjaan. Teknologi baru menghilangkan sejumlah pekerjaan, tapi sebaliknya melahirkan pekerjaan baru.

Bagaimana cara mengatasi masalah pengangguran adalah juga sebuah peluang kerja. Seperti peluang melakukan penelitian, membangun teori, menulis di jurnal-jurnal bereputasi, membuat proyek-proyek kreatif agar orang yang menganggur dapat kembali bekerja, dsb. Pendek kata, banyak pekerjaan baru yang muncul.

Lingkungan hidup mungkin akan terganggu karena kehadiran teknologi baru. Seperti akibat limbah baterai mobil itu.

Tapi, bukankah itu berarti ada pekerjaan baru lagi, yaitu memikirkan dan membuat rancangan teknis agar limbah batrrai itu tidak menimbulkan bahaya. Dalam perspektif ini, tentu naif kalau kita berpikir melarang penggunaan mobil listrik gara-gara adanya limbah.

ChatGPT pasti mendisrupsi bidang pekerjaan tertentu, bahkan membunuhnya. Tapi tidak ada yang perlu dicemaskan. Mereka yang kreatif sekarang sedang berpikir bagaimana menggunakan ChatGPT untuk melebarkan sayap bisnis, agar pundi-pundi uangnya makin berisi.*

Dr Emeraldy Chatra, M.Ikom, dosen senior dan Ketua Prodi S2 Komunikasi Universitas Andalas (Unand), bermukim di Kota Padang, Sumatera Barat.

Leave a Response