
KETIKA berada di dalam wilayah museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, cobalah mengambil baut yang ada di kereta kencana naga paksi atau mengambil benang dari pakaian prajurit kerajaan Sumedang Larang jaman dulu, dijamin anda tidak akan bisa pulang. Sampai barang itu dikembalikan ke tempatnya, selama itu pula anda akan tersesat. Diyakini museum Prabu Geusan Ulun dijaga oleh makhluk tak kasat mata, berupa prajurit kerajaan tempo dulu.
Hal itu dikatakan Mahapatih Kerajaan Sumedang Larang saat ini, Raden Lili Djamhur Soemawilaga ketika berdialog dengan praktisi supranatural Hakim Bawazier dari kanal
“Jangankan didalam gedung museum, diluar gedung museum pun, jika Anda berniat tidak baik terhadap koleksi museum atau anggota keluarga kerajaan, para “penunggu” pohon kantil (cempaka) yang berada di belakang museum, akan mengganggu sampai anda mohon maaf dan mengaku khilaf. Maka gangguan dari para penunggu pohon kantil yang terdiri dari makhluk jin usil itu akan berakhir,” katanya.
Destinasi Ikonik Serta Instagramabel
Museum Prabu Geusan Ulun menjadi destinasi wisata sejarah di Sumedang yang rekomended untuk menghabiskan liburan akhir pekan. Selain berlibur anda juga bisa belajar mengenai sejarah yang berkembang di Sumedang. Lokasinya yang dekat dari pusat pusat kota, menjadikan museum ini mudah dijangkau masyarakat. Nikmati pesona bangunan museum yang Instagramabel untuk berburu fotografi. Selain itu banyak juga koleksi menarik didalamnya yang bisa anda saksikan.Terdapat kurang lebih 6 ruangan dengan berbagai macam koleksi menarik. Mulai koleksi keris, kujang, golok, tombak, sampai pedang. Pakaian prajurit kerajaan tempo dulu, koin koin kuno, senjata para mahapatih, sampai yang ikonik, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Ya mahkota kerajaan Pajajaran itu tersimpan elegan dalam kotak kaca berdampingan dengan mahkota siger binokasih untuk perempuan di gedung terbaru museum sumbangan dari Ginanjar Kartasasmita (menteri era Soeharto).
Didirikan pada tahun 1974 masa pemerintahan Bupati Drs Supian Iskandar, museum Prabu Geusan Ulun menyimpan peninggalan sejarah yang tidak ternilai. Salah satunya dan paling utama Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Sebuah mahkota simbol kebesaran kerajaan Pajajaran ketika diperintah Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Mahkota itu diserahkan Siliwangi kepada Geusan Ulun ketika Pajajaran terdesak oleh pasukan gabungan dari kerajaan Banten, Cirebon dan Demak. Maksud penyerahan mahkota itu sebagai simbolisasi bahwa kerajaan Sumedang Larang memikul tanggung jawab besar sebagai penerus Pajajaran. Setelah Sumedang Larang menerima Binokasih, status kerajaan Sumedang Larang berubah menjadi kerajaan berdaulat. Sebelumnya berada dibawah kekuasaan Pajajaran. Wilayah teritorial Sumedang yang sebelumnya kecil, menjadi sangat luas mewarisi wilayah teritorial bekas kerajaan Pajajaran.
Dikawal 30 Kandaga Lante Pajajaran
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake dan Mahkota Siger serta pakaian kerajaan Pajajaran yang diserahkan kepada Sumedang Larang itu dikawal 30 Kandaga Lante (prajurit pilihan setingkat para komandan pasukan) Pajajaran. Mereka para komandan lapangan yang jago berkelahi dan tinggi ilmunya. Akhirnya setelah melalui perjalanan panjang dari ibu kota Pajajaran di Pakuan Bogor, Mahkota Binokasih selamat sampai di Kutamaya (ibukota Sumedang Larang dahulu). Dari 30 Kandaga Lante itu, yang dikenal masyarakat hanya 4 orang. Yaitu Sanghyang Hawu atau Pangeran Jaya Perkasa, Batara Dipati Wiradidjaya (Eyang Nangganan), Sanghyang Kondanghapa dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot. Selanjutnya mereka mengabdikan diri kepada kerajaan Sumedang Larang dibawah Prabu Geusan Ulun.
Harga Tiket Museum
Harga tiket Museum Prabu Geusan Ulun yaitu Rp 3000 untuk dewasa. Dan anak-anak Rp 2000. Biaya tambahan yang harus dikeluarkan yaitu retribusi parkir kendaraan roda dua 2 ribu rupiah dan roda 4 lima ribuan (harga tiket masuk museum bisa berubah sewaktu-waktu).
Museum Prabu Geusan Ulun berada di Jl. Prabu Geusan Ulun, Regol Wetan, Kec. Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Atau hanya sepelemparan batu dari alun alun kota Sumedang.
Dari arah Bandung via Cadas Pangeran setelah sampai di bundaran mahkota Binokasih, lurus saja. Kurang dari dua menit akan sampai di alun-alun Sumedang. Museum Prabu Geusan Ulun bersebrangan dengan alun-alun kota. Kalau dari gerbang tol kota Sumedang, ambil arah kekiri atau ke Bandung. Setelah melewati dua perempatan, setibanya di tugu mahkota Binokasih (bundaran mahkota Binokasih), belok kiri arah alun alun. Semudah itu akses menuju museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Adapun waktu buka mulai pukul 08.00 – 14.00 WIB. Mulai Selasa sampai Kamis. Dilanjut Sabtu-Minggu. Hari Senin dan Jumat serta libur nasional wisata museum sejarah ini ditutup untuk umum.
Fasilitas di Museum Prabu Geusan UlunPara prajurit penjaga pintu masuk museum.
Fasilitas di Area Museum ada tempat parkir wisata, kamar mandi, mushola, spot foto instagenic dan warung wisata. Nikmatnya perjalanan wisata yang ada di Museum Prabu Geusan Ulun bersama sahabat maupun keluarga untuk liburan yang tak terlupakan. Sangatlah cocok buat para pelajar dan mahasiswa penikmat sejarah.
Spot Wisata di Museum Prabu Geusan UlunPara penari kerajaan
Berikut beberapa spot wisata yang dapat dikunjungi ketika berada di Museum Prabu Geusan Ulun.
Bumi Kaler, bangunan Bumi Kaler sendiri didirikan pada tahun 1850 yang digunakan sebagai rumah bupati kala itu. Pemberian nama bangunan tersebut didasarkan pada letaknya yang mengarah ke sisi utara. Di dalamnya terdapat banyak koleksi sejarah mulai dari patung harimau, serta beberapa furniture dan peninggalan dari Pangeran Kornel. Terdapat pula paude, yaitu tempat yang digunakan untuk membaringkan putra dari Bupati Pangeran Aria Soeriakoesoema Adirata setelah khitan.
2. Gedung Srimanganti
Gedung SrimangantiAdipati Tanumaja
Sejarah dari Gedung Srimanganti sendiri didirkan pada tahun 1706 pada masa pemerintahan Adipati Tanumaja. Untuk pembangunan gedung ini yakni direncanakan oleh Pangeran Panembahan atau Rangga Gempol 3 (1656 – 1706).
Gedung Gendeng , selanjutnya ada bangunan gedung Gendeng yang berdiri pada tahun 1950 untuk dijadikan gudang barang peninggalan kerajaan. Namun berbagai benda pusaka yang ada di museum ini kemudian dipindahkan ke gedung Gedung Pusaka. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencari lokasi ruangan yang lebih luas. Penamaan Gedung Gendeng sendiri dikarenakan letaknya yang berada diantara Bumi Kaler dan Bumi Kidul. Beberapa pusaka yang ada di Gedung Gendeng diantaranya yaitu keris, mahkota binokasih, mahkota siger, pusaka 7 dari pangeran Kornel, dan senjata senjata kerajaan. Baik kerajaan Sumedang Larang atau Pajajar
Gedung Gamelan, bangunan Gedung Gamelan didirikan pada tahun 1973 yang difungsikan untuk menyimpan seperangkat alat musik. Baik alat musik peninggalan kerajaan Sumedang Larang jaman dulu maupun alat musik tradisional masa kini. Gamelan tersebut masih bisa digunakan, karena tersimpan dengan baik dan terus dijaga serta dikelola. Alat musik tradisional satu ini begitu unik dan legend. Anda bisa mengabadikan momen berfoto dengan latar belakang gamelan tersebut.
Gedung Pusaka, pengunjung dapat menikmati koleksi pusaka peninggalan kerajaan di Galeri Gedung Pusaka yang didirikan pada tahun 1997. Wisatawan bisa melihat berbagai koleksi pusaka dan senjata tradisional yang ada sejak zaman dahulu. Tentu saja sejarah dibalik pusaka itu berdarah darah. Anda bisa merasakan aura mistis hanya dengan melihatnya. Benda-benda tersebut disimpan dalam lemari kaca agar tetap terjaga kebersihan dan terhindar dari pegangan para wisatawan. Selain itu banyak komponen material utama senjata kerajaan yang terbuat dari emas dan batu meteorit (tentu harganya sangat tinggi jika dijual di pasar loak sekalipun). Hal itu dikhawatirkan menumbuhkan niatan pengunjung museum untuk memilikinya. Karena itu para pengunjung hanya bisa bisa melihat dan menikmatinya. Ingatlah jangan pernah punya niat ingin memiliki kemudian mencurinya!
Gedung Kereta,Dan yang terakhir dari keenam gedung museum itu adalah Gedung Kereta Kencana yang didirikan pada tahun 1990 dengan koleksinya yakni Kereta Naga Paksi. Sebuah kereta peninggalan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata di masa lalu yang masih tersimpan dengan rapi.
Gedung ini sudah ada sejak zaman kabupatian dengan bentuk unik dan bermakna dalam. Jika pengunjung memasuki ruangan ini pastinya akan takjub dan kagum melihat tampilan kereta yang elegan dan berkelas. Kereta tersebut dibuat dengan sangat rinci pada setiap sudutnya. Teknik pengecatan yang baik sehingga menampilkan sajian warna yang menarik.
Saran Berkunjung, tips berkunjung di Museum Prabu Geusan Ulun untuk liburan yang lebih berkualitas dan menyenangkan di Museum Prabu Geusan Ulun. Berikut beberapa tips liburan yang Bandung Pos biro Sumedang siapkan untuk anda. Waktu terbaik untuk berkunjung yaitu di pagi hari dan jangan lupa simak informasi operasional wisata Museum Prabu Geusan Ulun.
Datang bersama keluarga untuk berlibur sekaligus belajar sejarah kota Sumedang di Museum Prabu Geusan Ulun. Bawalah kamera untuk mengabadikan momen liburan dengan berbagai macam barang koleksi menarik didalamnya.** (Laila Venadhita/BP/jtning).





