Kolom Sosial Politik
Oleh Ridhazia
DALAM KBBI kesambet diserupakan sakit atau pingsan. Bukan sakit atau pingsan sungguhan. Tapi akibat gangguan makhluk halus. Gejala seseorang yang kesambet dicirikan suhu tubuhnya meningkat. Dan, sering mengigau.
Antropolog Clifford Geertz (1926-2006) dalam ‘Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi’ ( 1985) mengidentifikasi makhluk halus secara harfiah hanyalah metafora visual. Serangkaian imaji seseorang.
Kesambet dipercaya karena “dipegangi” setan. Untuk mengatasi kesambet lazim dilakukan ritual khusus dengan doa-doa dan menghadiahi sepiring nasi kuning, sebutir telur ayam mentah, kembang tujuh rupa, dan cerutu di tempat kejadian peristiwa.
Desosiasi
Kesambet dibedakan dengan kesurupan yakni reaksi desosiasi. Pengidap disosiasi lebih berurusan dengan psikologi. Ia merasa terlepas dari tubuh. Seolah-olah dunia di sekitarnya tidak nyata.
Lebih jauh lagi hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya yang disebabkan adanya tekanan fisik maupun mental.*
Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim dii Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung.





