Kolom Mahasiswa
Oleh Rizki Yasir Alfandi
TRANSPORTASI merupakan kebutuhan masyarakat masa kini. Kendaraan listrik semakin bermunculan dan berkembang pesat di negara-negara maju dan berkembang di dunia, termasuk di Indonesia. Industri kendaraan listrik di Indonesia mendapatkan angin segar pada saat terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 tahun 2022, dengan dukungan Elon Musk, raja mobil listrik dunia.
Keputusan tersebut diharapkan menjadi kabar baik bagi Indonesia. Industri kendaraan listrik di Indonesia akan membantu mendukung mobilitas masyarakat di Indonesia dalam mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar bensin.
Mobil listrik membantu mengurangi emisi kendaraan konvensional, dan kendaraan listrik telah menjadi solusi global untuk mengurangi emisi dan polusi dari kendaraan konvensional.
Sementara itu, pada konferensi G20 di Bali tanggal 14 November 2022 lalu, Elon Musk secara daring memuji dan menilai Indonesia sudah siap untuk membangun industri baterai kendaraan listrik terintegrasi. Terutama karena Indonesia memiliki cadangan nikel melimpah. Di samping itu, Indonesia juga memiliki sejumlah emiten yang serius menggarap kendaraan listrik seperti INDY, GOTO, NFCX, WIKA, dan SLIS.
Sampat saat ini, meskipun sudah ada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan, populasi kendaraan listrik di Indonesia masih sangat rendah.
Kendaraan listrik adalah salah satu kunci pengurangan misi karbondioksida di sektor transportasi sebagai penyumbang polutan kedua terbesar setelah sektor energi. Dalam konteks Indonesia, selain pengurangan emisi, kendaraan listrik juga akan menurunkan impor BBM yang terus melonjak.
Lebih dari 80 persen impor BBM disedot oleh sektor transportasi darat. Tahun 2017 saja, nilai impor BBM kita tercatat sudah lebih dari Rp 300 triliun atau setara dengan 2 persen pertumbuhan ekonomi nasional.
Meskipun adopsi kendaran listrik merupakan solusi strategis untuk menurunkan emisi karbondioksia sekaligus mengurangi impor BBM, masih ada banyak kendala yang dihadapi.
Setidaknya, ada tiga masalah utama yang perlu segera diselesaikan yaitu Infrastruktur kendaraan listrik yang belum matang, harga kendaraan yang masih mahal, dan persepsi masyarakat yang keliru tentang kendaraan listrik.
Namun, banyak orang takut beralih ke kendaraan listrik karena beranggapan lamanya pengisian daya listrik.
Mitos tersebut benar jika arus listrik yang dipakai kecil dan kapasitas baterai kendaraan besar. Contohnya, Ioniq 5 dengan kapasitas baterai 70 kWh akan mengisi daya lebih dari 12 jam di rumah dengan daya langganan 3 kW.
Ada sebagian kalangan yang menyampaikan bahwa sia-sia beralih ke kendaraan listrik jika pasokan listriknya masih dari sumber energi yang kotor seperti PLTU batu bara. Ini sering menjadi kampanye negatif bagi kendaraan listrik di Indonesia.*
Rizki Yasir Alfandi, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Pasundan. Peminat isu sosial, tinggal di Bandung.





