Kolom Mahasiswa

Flexing di Kalangan Kawula Muda

222views

 

Oleh Agil Puja Kesuma

FENOMENA“flexing” atau memamerkan kekayaan, prestasi, atau gaya hidup yang mewah di kalangan anak muda telah menjadi cukup umum dalam era media sosial.  Pencitraan dan validasi diri flexing sering  merupakan upaya untuk membangun citra yang mengesankan di depan orang lain. Anak muda mungkin berusaha memperoleh validasi sosial dan perhatian dengan memamerkan apa yang mereka anggap sebagai simbol keberhasilan atau status. Hal ini sering didorong oleh keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari teman sebaya atau pengikut media sosial.

Tekanan untuk  tampil kaya atau sukses dalam masyarakat yang sering mengagung-agungkan materi dan keberhasilan, anak muda mungkin merasa terdorong untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki segalanya. Tekanan sosial ini dapat berasal dari lingkungan sekitar, teman sebaya, atau bahkan konten yang mereka konsumsi di media sosial. Hal ini dapat menghasilkan fenomena flexing sebagai cara untuk menunjukkan “kesuksesan” mereka kepada dunia.

Media sosial memberikan platform yang sempurna untuk flexing. Dengan membagikan foto-foto atau cerita yang menunjukkan kekayaan atau gaya hidup mewah, anak muda dapat menciptakan persepsi yang salah tentang kehidupan mereka. Hal ini dapat memicu perasaan tidak aman di kalangan mereka yang merasa tertinggal atau tidak sebanding dengan apa yang mereka lihat di media sosial.

Flexing dapat berdampak negatif pada kesehatan mental anak muda. Perasaan tidak puas, rasa rendah diri, atau perasaan tidak aman dapat muncul ketika mereka membandingkan diri mereka dengan gaya hidup yang terpampang di media sosial. Juga, kecanduan untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian melalui flexing dapat menyebabkan ketidakseimbangan emosional dan merusak harga diri.

Salah satu kritik terhadap fenomena flexing adalah ketidakautentikan. Terkadang, flexing hanya merupakan tampilan atau ilusi yang tidak sepenuhnya mencerminkan kehidupan nyata seseorang. Banyak yang memilih untuk menampilkan momen-momen terbaik mereka, sementara menyembunyikan kegagalan, stres, atau kesulitan yang mungkin mereka hadapi. Ini dapat menciptakan citra yang tidak realistis dan memperkuat persepsi yang salah tentang kehidupan seseorang.

Dalam menghadapi fenomena flexing, penting untuk membangun kesadaran kritis dan pemahaman yang sehat tentang media sosial. Anak muda perlu menyadari bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kehidupan nyata. Fokus pada perkembangan pribadi, pencapaian yang berarti, dan kehidupan yang seimbang dapat membantu mengurangi dampak negatif dari fenomena flexing.

Agil Puja Kesuma, mahasiswa Prodi Jurnalistik Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, bermukim di Kota Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response