Opini

Gerakan Besar dengan Motor Kecil

595views

Kolom Sosial Politik
Oleh Emeraldy Chatra

TAHUN 2008 serombongan orang dari Sumbar mencari saya ke Bandung. Mereka orang-orang istimewa. Ada yang dirut perusahaan besar, akademisi yang belakangan jadi profesor dan diangkat jadi pejabat tinggi negara, dan ada pula yang beberapa waktu kemudian jadi dirut perusahaan milik negara. Saya seperti orang penting, padahal saya tak lebih dari kerak-kerak nasi saja.

Saya dijamu di Hotel Preanger. Cita-cita saya menikmati sup Preanger yang enak itu kesampaian.

Setelah menikmati hidangan, rombongan itu mengajak saya berdiskusi. Ternyata salah seorang dari mereka ingin jadi orang nomor satu di Sumbar. Ringkasnya, mereka minta bantuan saya. Permintaan berat, tingkat dewa.

Saya akhirnya menerima permintaan itu. Tiap Jumat saya sudah ada di Padang dan selanjutnya berputar-putar di seluruh wilayah Sumbar. Senin pagi saya kembali ke Bandung. Teman seperjalanan saya hanya dua orang. Keduanya tidak bisa menyetir, sehingga saya harus merangkap sopir bagi mereka.

Kegiatan saya keliling Sumbar tentu memperkenalkan tokoh yang ingin jadi nomor satu tadi. Orang itu benar-benar tidak dikenal masyarakat. Ia hidup mewah, ekslusif dan gagap kalau bertemu masyarakat kelas kerak-kerak nasi.

Dalam usaha saya menjual sang tokoh saya dapat peringatan dari seseorang teman yang bekerja di sebuah lembaga survei di Jakarta. Kata teman itu, tidak usahlah si tokoh dibantu. Percuma saja. Namanya tidak muncul dalam survei.

Peringatan yang berguna, tentu saja. Tapi ada ucapan kawan itu yang membuat adrenalin saya naik. Katanya, “Kalau ada duit 6M, bisa Bang. Kita bagi dua saja.”. Artinya, dia dan lembaganya akan bisa menjual si tokoh dengan harga Rp 3 miliar. Ini yang menantang saya. Dalam hati saya bilang, “Untuk saya, Rp 1 M saya sudah berlebih-lebih. Saya buktikan nanti”.

Saya memang punya ideologi ‘kerja politik murah’. Maksudnya, agar tokoh yang saya ‘jual’ tidak jadi koruptor setelah menjabat. Bila modal politik terlalu besar, tentu sulit mencegahnya tidak makan uang haram. Utang harus dibayar, dan pembayarnya dari uang negara yang dicuri.

Ringkas cerita, dengan kekuatan sekitar 16 orang saya merambah wilayah Sumbar, menjajakan si tokoh. Cukup panjang waktunya. Sekitar delapan bulan. Di sini ilmu marketing politik sangat berguna. Tidak asal menjual saja.

Saya buatkan sebuah ormas sebagai ‘kaki’ bagi si tokoh. Mulanya saya jadi ketua. Setelah itu si tokoh saya angkat menggantikan saya. Ormas itu anggotanya sampai 12 ribu orang, semua punya Kartu Tanda Anggota (KTA). Tapi yang mengurus ormas itu tidak sampai 20 orang. Mayoritas anak-anak muda, masih single, dan tidak terlalu berorientasi materi.

Bulan ke sembilan ada survei dari lembaga survei besar di Jakarta untuk mengukur elektabilitas bakal-bakal calon gubernur Sumbar. Tokoh yang saya jual secara mengejutkan berada di peringkat satu! Elektabilitasnya paling tinggi. Melengganglah dia ke panggung pilkada, didukung dua partai besar.

Saya membuktikan, selama sembilan bulan bekerja saya menghabiskan uang tidak lebih dari Rp 500 juta saja. Kalau kita tidak berpikir mengeruk kantong orang yang kita ‘jual’ pengeluaran sebesar itu tidak mustahil.

Ia memang kalah akhirnya. Tapi itu bukan masalah saya. Itu masalah dia. Tugas saya selesai setelah ia dapat partai. Setelah dua partai menuntunnya, saya santai-santai saja lagi di Bandung. Saya tidak berminat bertungkus lumus di dunia politik. Dunia saya dunia pergerakan sosial.

Apa yang ingin saya sampaikan adalah:

Sebuah gerakan besar sebenarnya hanya membutuhkan sejumlah kecil orang yang militan, yang mau bekerja keras. Orang-orang yang ikut dalam gerakan tapi tidak siap untuk terjun langsung tidak perlu membuang energi terlalu banyak. Cukup memberi support sesuai dengan kapasitasnya saja. Sepanjang mereka tetap bersemangat dan memberikan dukungan, sudah cukup.

Gerakan besar dengan banyak orang yang bergerak aktif justru dapat menjadi kontraproduktif. Bisa sering terjadi ketegangan dan friksi karena kepentingan yang berbeda-beda. Banyak debat dibandingkan dengan kerja. Akhirnya seperti gajah lumpuh saja.*

Dr Emeraldy Chatra, M.Ikom, pemerhati komunikasi sosial-politik, dosen senior dan Ketua Program S2 Ilmu Komunikasi Universitas Andalas, bermukim di Kota Padang, Sumatera Barat.

Leave a Response