Opini

Hidup HEDON!

187views

Kolom Sosial Politik
Oleh: Ridhazia

HEDONISME saat ini disandingkan dengan makna kemewahan. Suatu gaya hidup yang cenderung konsumtif. Semisal rumah luas dan mewah. Juga kendaraan yang super mahal. Semua itu terkait jumlah kekayaan yang melimpah.

Kata hedonis di negeri ini kembali populer setelah terbongkar ada pejabat yang superkaya di luar batas profil sebagai seorang pegawai negeri. Dan, salah satu anaknya mempertontonkan mobil dan motor mewah yang super mahal.

Apa itu hedonis..?

Awal kata hedonisme — dari hedone yang artinya kesenangan — sebenarnya sudah menjadi diskusi panjang para filosof sejak tahun 433 SM. Antara lain dimulai oleh Socrates (479-399 SM). Pemikir antroposentrisme yang hidup pada masa Yunani Klasik kerap mempertanyakan tujuan hidup manusia. Dan, pertanyaan itu “apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?”. Pergumulan pemikiran tentang kesenangan lantas dikembangkan lagi oleh filsuf Aristippos (433-355 SM) dan dilanjutkan seorang filsuf Yunani Epikuros (341-270 SM).

Kesimpulannya, mencari kesenangan itu kodrat manusia.

Beda dengan bahagia

Arti senang di KBBI adalah puas dan lega, tanpa rasa susah dan kecewa. Diserupakan hidup good (baik) dan happy (senang). Kesenangan jenis ini katanya lebih termotivasi faktor eksternal. Antara lain kebendaan dan lingkungan sosial. Dibedakan dengan bahagia. Kebahagiaan lebih mengacu pada keadaan yang memiliki kaitan motivasi secara internal. Muncul karena adanya dorongan dari dalam diri atau pikiran yang merasakan stimuli senang atau gembira.

Adalahan Martin Seligman (1998) seorang pakar psikologi positif yang mendefinisikan bahwa hidup bahagia. Katanya, kebahagiaan itu tidak tunggal. Tetapi terbagi menjadi tiga konstruk, yaitu pleasant life, good life, dan meaningful life.

Pleasant Life adalah kebahagiaan duniawi yang terkait kemampuan ekonomi menengah ke atas. Good Life sebagai kebahagiaan yang dialami apabila seseorang fokus pada kekuatan pribadi dan hubungan dengan orang lain. Dan, Meaningful Life yang hidup yang ideal dan penuh dengan makna.*

Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Leave a Response