Oleh Ridhazia
MUNGKIN hanya Mustofa NR yang mencalonkan diri menjadi wakil Nabi di tengah ambisi politisi Tanah Air menjadi wakil presiden menjelang pilpres 2024.
Namun sayang, lansia yang menembakan air softgun secara membabi buta itu wafat di pelataran parkir gedung megah para ulama berkantor sebelum polisi mengetahui motif tindakannya.
Pria asal Lampung itu sebelumnya pernah diberitakan melakukan aksi serupa di gedung DPRD Lampung pada tahun 2017 silam.
Delusi Mesianic
Dalam pandangan psikologi, kemunculan kasus Mustofa NR yang mengaku-ngaku sebagai wakil Nabi — sebagaimana pada kasus serupa yang mengakui sebagai sosok nabi bahkan tuhan hanyalah — delusi.
Dalam standar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV), yakni suatu pedoman keluaran American Psychologist Association (APA) delusi yang dialami manusia seperti disebut dengan delusi messianic.
Meskipun bukan istilah klinis maupun penyakit diagnosis. Namun, gejala penyakit tersebut sangat mirip dengan gejala pada orang yang mengidap delusions of grandeur atau orang-orang yang memiliki citra diri yang bersifat delusional.
Juru Selamat!
Dan, seseorang yang diidentifikasi masuk kategori delusi agama ini tumbuh menjadi seseorang merasa bertanggung jawab atas nasib buruk yang diterima oleh orang lain. Dan merasa perlu untuk menolong orang dengan nasib buruk tersebut agar dapat terbebas dari masalah yang sedang dialami serta memberikan keyakinan kuat tapi ia sendiri yang menyebabkan tertekan atau cacat.
Cacat psikologis ini membuat pengidapnya merasa bahwa dirinya hadir ke dunia sebagai seorang juru selamat yang akan mengangkat manusia dari keterpurukan atau kesesatan.*
*Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





