Kolom Sosial Politik
Oleh Emeraldy Chatra
SEKARANG memang kita merasa beruntung karena ada internet. Dengan internet kita memperoleh berbagai kemudahan. Internet memunculkan media sosial yang mengubah pola-pola komunikasi dan interaksi.
Banyak sekali kesulitan kita yang dapat diatasi dengan adanya internet. Dalam marketing, kita tidak perlu lagi mengasong barang dari rumah ke rumah. Banyak orang jadi kaya karena penjualan online. Penjualan online memungkinkan penjaja kelas kampung menjajakan barang dagangannya sampai ke manca negara.
Di era internet dan media sosial lahir profesi-profesi baru. Ada yang disebut youtuber atau tiktoker. Youtuber itu profesi orang yang mencari uang, dan cukup banyak yang jadi kaya raya, dengan mengelola kanal Youtube. Tiktoker sebutan untuk yang suka menggunakan aplikasi TikTok dari China untuk sekedar berekspresi atau cari uang.
Bagi saya yang akademisi, internet sangat berguna dalam mencari referensi, baik buku (e-book) maupun artikel-artikel ilmiah. Internet memungkinkan saya mendapat e-book secara gratis dan masuk ke jurnal-jurnal internasional bereputasi. Saya pun punya akses untuk menulis di situs-situs terbuka yang banyak diakses ilmuwan manca negara.
Panjang betul daftar keuntungan yang diberikan internet kepada kita. Tapi kelak internet ini akan menjadi musuh karena ia menjadi alat untuk mencelakakan kita. Lho, kok bisa?
Sekarang kita masih merem melek menikmati keuntungan internet. Namun kita umumnya tidak menyadari bahwa internet itu dikendalikan oleh entitas tertentu di luar negeri sana. Entitas ini, yang dikenal sebagai elite global, tidak selamanya berbaik hati kepada kita.
Bahaya internet baru mulai terasa menggejala setelah munculnya berbagai perusahaan, terutama di Amerika Serikat, Kanada dan negara-negara Eropa yang memanfaatkan internet untuk menambang data (data mining). Dengan algoritma yang mereka bangun perusahaan itu dapat mengumpulkan data pribadi dan prilaku manusia di muka bumi dari penggunaan internet. Data itu mereka himpun dalam sebuah instrumen yang disebut Big Data.
Big Data menjadi ikon bisnis paling populer di zaman internet karena mampu menghasilkan uang lebih banyak. Data lebih mahal daripada minyak bumi. Dengan data tidak hanya pergerakan bisnis yang lebih terukur dan terprediksi, tapi juga aktivitas politik setingkat pemilihan presiden.
Masalahnya, data yang terhimpun dalam Big Data kebanyakan data yang ditambang tanpa persetujuan dari para pihak yang berhak atas data itu. Banyak juga data yang diperoleh dengan Term of Service (ToS) yang sudah dimanipulasi. Kalau Anda mengklik ‘I’m no a robot’ sebelum masuk ke sebuah situs, berarti Anda mempersilakan pencuri data memaling data pribadi Anda. Singkatnya, banyak dari kandungan Big Data itu hasil pencurian.
Tetapi fenomena Big Data belum dirasakan sebagai ancaman serius. Sebab praktik ilegal dalam penambangan data tidak banyak diketahui korbannya. Lagi pula prakik ilegal itu masih bisa ditutupi sehingga terkesan menjadi legal.
Memang ancaman serius internet masih di depan, tapi tak lama lagi. Sekarang elite global yang berhimpun dalam World Economic Forum (WEF) mempunyai agenda memaksa negara-negara di dunia menerapkan uang digital (digital currency), passport digital, dan aneka sistem berbasis internet. Internet akan sepenuhnya difungsikan untuk mengontrol manusia, membuat kebebasan pribadi benar-benar tidak ada lagi. Manusia tak akan punya pilihan selain menghamba sepenuhnya kepada elite global.
Mengapa elite global dapat melakukan itu? Tak banyak yang menyadari, sejak awal internet sudah di bawah kontrol elite global. Mereka yang membiayai, mengembangkan teknologi, dan menjajakannya ke seluruh dunia sehingga konsumen menjadi kecanduan.
Ketika ketergantungan kepada internet sudah sempurna, dengan mudah mereka menjadikan internet sebagai instrumen kekuasaan berskala global, melampaui kekuasaan negara-negara. Negara-negara harus tunduk kepada mereka karena sistem internal negara sudah terdigitalisasi, online dan dengan sendirinya tidak dapat lepas dari internet.
Dengan dirampasnya kebebasan kita, saat itulah internet yang sekarang kita akrabi berubah menjadi musuh. Tak ada lagi yang dapat kita rahasiakan. Orang ingin lari dari internet, tapi sudah terlambat. Tanpa internet kita tak bisa belanja kebutuhan pokok, karena harus dibayar dengan uang digital. Jadi siap-siap saja mati kelaparan.*
Dr Emeraldy Chatra, M.Ikom, dosen senior dan Ketua Prodi S2 Komunikasi Universitas Andalas (Unand), bermukim di Kota Padang, Sumatera Barat.





