
METRO BANDUNG, bandungpos.id – Fikom Unisba (Universitas Islam Bandug) bersama 14 Institusi pendidikan yang tersebar di 7 negara Asia terlibat dalam program ANNIE School Net, yaitu sebuah program cek fakta yang diinisiasi oleh ANNIE (The Asian Network of News & Information Educators). ANNIE yang berpusat di Hongkong memiliki tujuan mengembangkan dan berbagi sumber daya pendidikan yang akan membantu pengajar dan pelajar memahami kompleksitas ekologi informasi di kawasan Asia.
Program yang mengedepankan keterlibatan mahasiswa dan pelajar ini adalah sebuah upaya untuk menumbuhkan dan melatih penalaran logis dan sikap kritis mahasiswa serta pelajar terhadap informasi yang beredar melalui sebuah ruang redaksi pemeriksa fakta. Melalui ruang redaksi tersebut, mahasiswa dan pelajar yang terpilih untuk berpartisipasi akan mempraktikkan berbagai teknik pengecekan fakta terhadap isu-isu maupun klaim tertentu, yang kemudian direspon dengan memproduksi berbagai konten dengan pendekatan kreatif untuk mengutarakan fakta dibaliknya.
Program yang akan dilaksanakan selama 18 bulan ini diawali dengan sesi orientasi melalui Zoom Meeting oleh Prof. Masato Kajimoto sebagai founder ANNIE pada 26 Januari 2024. Sesi yang dihadiri oleh para peserta program bertujuan membentuk nalar dan naluri penelurusan kebenaran serta bagaimana menghasilkan sebuah produk kreatif yang pada akhirnya bisa menjadi edukasi bagi masyarakat. Pada sesi yang berlangsung secara interaktif itu, Masato mengatakan bahwa artikel berita seringkali masih mengandung konten yang problematik, atau informasi yang tidak berdasarkan fakta. Peserta juga menanyakan berbagai topik dan sudut pandang fact-checking, mulai dari bisakah melakukan praktik periksa fakta pada mitos atau cerita hantu, termasuk mengetahui kebenaran rumor tentang jengkol.
Turut hadir dalam sesi tersebut Wakil Dekan III Fikom Unisba, Dr. Tresna Wiwitan M.Si. dan Dosen Fikom Unisba Santi Indra Astuti, M.Si. yang merupakan anggota Advisory Board ANNIE. Para pengajar/fasilitator dari Semi Palar yang dipimpin oleh Robertus Saliman dan Leo Amurist juga turut hadir dalam sesi yang menampilkan dunia periksa fakta, serta contoh karya periksa fakta dari pelajar dan mahasiswa negara lain. Sesi ini sekaligus menjadi pembuka bagi program pengecekan fakta yang didanai oleh organisasi filantropi Google.Org, dan direncanakan berlangsung hingga akhir 2025.(ask/bnn)





