Opini

[Kolom] Media dan Bencana

194views

 

Oleh:  AS Haris Sumadiria*

BENCANA, di mana pun dan kapan pun, selalu saja datang tak terduga. Menyentak dan menghentak. Meluluhlantakkan semua yang ada.Tak hanya harta benda tetapi juga jiwa.
Inilah juga yang kita saksikan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin siang 21 November 2022. Gempa dangkal berkedalaman 10 km dengan kekuatan 5,6 skala Richter, mengakibatkan 271 tewas, 40 belum ditemukan, 2.043 korban terluka, 22.198 rumah dan bangunan lainnya rusak berat dan sedang, dan jalan-jalan serta fasos dan fasum lainnya hancur tak bisa lagi dilalui atau digunakan.Diperkirakan jumlah korban tewas dan luka-luka masih akan terus bertambah.
Selain itu juga terdapat ribuan penduduk terdampak mengungsi, mengisi tenda-tenda darurat, berserakan di berbagai tempat. Kondisinya sangat mengenaskan. Dari berbagai bilik tenda-tenda darurat itulah,kerap terdengar suara isak tangis dari keluarga korban yang kehilangan anak, isteri, suami, saudara, atau kerabat dan tetangganya. Belum lagi di sana-sini terlihat wajah-wajah kusut masai dan lelehan air mata yang sudah mengering.
Kita semua terhenyak terpana. Tak diduga gempa Cianjur sedahsyat itu dampaknya. Para petinggi negara mulai dari presiden hingga gubernur, bupati, ribuan aparat TNI dan Polri, serta tak terbilang kelompok-kelompok relawan, semua berjibaku bersatu-padu ke wilayah genpa. Target pertama adalah evakuasi para korbandan pemulihan infrastruktur jalan dan fasilitas publik lainnya agar segera bisa berfungsi kembali.
Bertkat liputan media massa , termasuk juga media sosial dengan segala kelebihan dan kekurangannya, musibah gempa dahyat Cianjur, dalam waktu sangat singkat segera menyebar ke seluruh dunia. Berbagai bentuk perhatian, ucapan duka cita, simpati, pertolongan, penggalangan dana, pengerahan peralatan kebencanaan serta kiriman makanan, minuman, obat-obatan, pakaian, dan bahkan para relawan kebencanaan, dengan serta-merta terpusatkan ke lokasi bencana. Terus mengalir.
Pada saat terjadi musibah besar seperti gempa, media tiba-tiba hadir dan tampil perkasa sekali. Tanpa diminta oleh siapa pun. Padahal selama ini, terutama setelah era disrupsi melanda dunia sejak lima tahun lalu, media, terutama media arus utama, sudah dianggap mati suri. Sudah tak lagi berperan dalam kehidupan sosial masyarakat. Sudah dianggap tidak ada.
Pada saat terjadi bencana, media kembali menampilkan naluri dan watak asli serta filosofi eksistensinya. Media dengan serta-merta sanggup membangkitkan partisipasi, simpati, dan empati publik luar biasa. Bahkan sudah tak mau lagi bicara untung rugi. Inilah yang sering tidak kita sadari. Padahal dirinya sendiri, hari-hari ini hidup tertatih-tatih dalam lorong kegelapan. *

*AS Haris Sumadiria, doktor kajian media dan agama, dosen komunikasi dan jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati, dan beberapa perguruan tinggi negerii dan swasta di Bandung, pemerhati media.

Leave a Response