
Oleh Muhammad Subhan
MENJADI– pegiat literasi, sejatinya telah memahami konsekuensi ketika (akan) masuk ke belantara pengabdiannya. Di jalan, akan banyak onak, duri, jurang, dan lembah.
Tidak ada karpet merah untuk pegiat literasi, kecuali yang akan menjadi karpet merah itu adalah gerakan yang ia lakukan, dan pengabdian tanpa pamrih, terus-menerus, hingga akhir hayat.
Maka, sejatinya, siapa pun yang (akan/telah) menjadi pegiat literasi harus kembali pada niat: untuk apa menjadi pegiat literasi. Apakah niatnya ingin diperhatikan, mendapat bantuan, menerima reward/penghargaan, atau semata pengabdian; berbagi ilmu, pengalaman, yang buahnya akan tercipta masyarakat literat karena berbudaya literasi.
Niat akan menjadi pengingat, bahwa setiap gerakan memberi dampak, baik positif maupun negatif. Namun, kata penyair Chairil Anwar, semua dicatet, semua mendapat tempat.
Upaya-upaya dari sisi regulasi/kebijakan dan harapan untuk para pegiat literasi dari pemerintah, swasta, dan siapa saja, patut disambut dan didukung. Berbuah atau tidak hanya persoalan waktu. Setidaknya, dari kantong-kantong literasi yang dibina para pegiat literasi akan melahirkan generasi baru, kelak, di suatu hari, dan merekalah yang akan menjadi pemimpin baru yang mudah-mudahan harapan-harapan yang belum terpenuhi hari ini terwujud senyata-nyatanya di kemudian hari. Tabik, hormat, untuk para pegiat literasi Indonesia. Penulis Penggiat Literasi Sumatra Barat





