Kolom Mahasiswa
Oleh Mia Arianti Rahmatria
INDONESIA sudah sangat tidak asing dengan bencana banjir. Menurut data yang diperoleh dari laman Badan Nasional Penanggulanan Bencana atau BNPB, sepanjang 1 Januari hingga 16 Desember 2022 banjir di Indonesia sudah terjadi 1.451 kali dan menempati posisi nomor satu bencana yang sering terjadi.
Pada 6 Oktober 2022, media massa dan juga media sosial dipenuhi dengan berita banjir di Jakarta yang menelan korban jiwa, yaitu tiga siswa tewas akibat tertimpa tembok sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19 di Pondok Labu, Jakarta Selatan.
Tak sampai di sana. Pada 11 Oktober 2022 bencana banjir kembali menelan korban jiwa. Seorang mahasiswa IPB hanyut terseret arus banjir di tanah Sereal Bogor, Jawa Barat. Ia terseret hingga masuk ke gorong-gorong sedalam satu meter.
Kemudian belum lama ini, yaitu pada 11 Desember 2022 banjir melanda kawasan Gedebage Kota Bandung. Banjir tersebut mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang sangat parah. Gedebage merupakan salah satu kawasan di Bandung yang sangat sering dilanda banjir.
Beberapa kejadian banjir tersebut membuat kita sadar jika permasalahan banjir di Indonesia merupakan permasalahan yang sangat serius. Meskipun banjir biasa terjadi di Indonesia, tidak berarti masyarakat terbiasa dengan hal itu. Banjir dengan segala dampaknya tentu sangat menggangu dan merugikan untuk masyarakat.
Justru karena terbiasa terjadi, seharusnya banjir menjadi problematika yang harus segera dan diprioritaskan penanggulangannya oleh pemerintah. Meskipun salah satu penyebab dari banjir itu sendiri adalah faktor alam, tidak dipungkiri jika faktor-faktor lainnya merupakan faktor dari kelalaian manusia seperti pembangunan atau penebangan pohon yang berlebihan.
Selain pemerintah, masyarakat juga menjadi salah satu pihak yang wajib ikut andil dalam penanggulangan banjir. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan oleh masyarakat seperti halnya yaitu tidak membuang sampah sembarangan apalagi ke aliran sungai. Meskipun sepertinya sepele, perubahan kecil tersebut bisa berdampak sangat baik untuk kedepannya.*
Mia Arianti Rahmatria, mahasiswa Prodi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati, peminat masalah sosial, korban banjir, tinggal di Bandung.





