Kolom Sosial Politik
Oleh: Ridhazia
DIBERITAKAN total jumlah potensi pergerakan mudik Lebaran 2023 akan mencapai 123,8 juta orang. Jumlah pergerakan pemudik tahun ini meningkat pesat dibanding tahun 2022 yang hanya tembus sebanyak 85 juta orang.
Mengapa mudik?
Dalam tafsir budaya kontemporer mudik itu singkatan ‘mulih dilik’ yang artinya pulang sebentar. Kesadaran yang dikonstruksi sebatas nostalgia saja yakni pengalaman subyektif atas dasar sentimentalitas pada masa lalu.
Sedangkan menurut tafsir antropologi, fenomena mudik tak lebih sebagai kelanjutan proses dari hikayat kuno yakni perpindahan manusia. Jika pada awalnya urbanisasi yakni migrasi manusia dari desa ke kota, mudik dimaknai sebagai ruralisasi sebagai kebalikannya yakni perpindahan manusia dari kota ke pedesaan.
Itu sebabnya mudik juga menjadi kesemestian kemasan sosial yang cenderung dicirikan perubahan menemukan keseimbangan alam. Dari perkotaan yang kultural, yang dibangun dengan nilai nilai profan, material dan individualistik ke suasana pedesaan yang masih natural yang sarat dengan nilai-nilai sakral, non-material dan bersandar pada kolektivistik.
Sekalipun perubahan dari kedua perbedaan itu tidak selalu absolut, secara hermeneutika mudik itu tak lebih sebagai proses mengembalikan kebeningan hati, kedamaian laku, dan kepedulian. Sekaligus menjadi mekanisme menemukan kembali keaslian diri dari keterasingan dan kebermaknaan hidup setelah terjebak kesadaran rasionalitas dan anonimitas.
Semua itu sebagai sesuatu yang pernah diingatkan filsuf Socrates sekaligus pemikir antroposentrisme yang hidup pada masa Yunani Klasik bahwa ” hidup yang tak terperiksa tidak layak diteruskan”. *
Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





