Opini

Menghadapi Gempa

294views

Kolom Mahasiswa
Oleh Sipa Suci Lestari

KILAS balik cerita pelik terjadinya gempa di bumi Cianjur. Turut berduka cita atas hilangnya nyawa, hilangnya asa, serta air mata yang terus menggenang akibat leburnya hal yang dulu ada kini sirna. Rumah bak istana kini tersisa hanyalah runtuhan tembok yang telah menelan semua harta bahkan sebagian nyawa.

Jika bertanya alasan mengapa hal ini terjadi, tentu, semua orang tidak mengetahuinya. Namun, getaran dahsyat yang Tuhan gerakkan pasti mengandung pesan di dalamnya. Entah ujian ataupun peringatan, yang pasti semua orang terlibat di dalamnya.

Gempa berkekuatan 5.6 MW dengan kedalaman 10 km yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia pada 21 November 2022 pukul 13.21 WIB. Saking besarnya, gempa bumi terasa hingga Bandung, DKI Jakarta, Tangerang, Rangkasbitung dan Lampung.

Besarnya kekuatan gempa tidak bisa disepelekan. Maka, tidak heran jika gempa ini memakan banyak jiwa serta rumah warga yang menjadi korban. Berawal dari 14 orang meninggal dan 18 orang terluka melonjak hingga 272 korban jiwa, 1083 warga yang terluka dan 58,362 warga yang mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.

Menguak kilas balik cerita seorang ibu saat mengalami guncangan gempa. Ia mengatakan, sewaktu adanya gempa sang buah hati sedang tertidur lelap, tak disangka, ternyata itu tidur terakhirnya. Terkadang, takdir pelik menimpa sebagian keluarga dengan direnggutnya salah satu nyawa oleh Tuhan.

Maka dari itu, tidak hanya masyarakat Cianjur, namun masyarakat dari setiap penjuru pun mesti waspada dan senantiasa mempersiapkan wawasannya guna menghadapi situasi yang tak terduga akan kedatangannya layaknya gempa.

Hal pertama yang mesti dilakukan apabila gempa kembali terjadi ialah segera cari jalan keluar menuju tempat terbuka seperti lapangan.

Kemudian, perhatikan kemungkinan pecahan kaca, genteng, atau material lain di sekitar lingkungan. Jika sudah berada di luar, maka carilah lapangan luas yang tidak ada objek tinggi di sekitar lingkungan.

Kehilangan tempat tinggal, minim persediaan makanan, serta kehilangan seseorang bukanlah hal yang mesti disepelekan. Situasi tersebut tengah dirasakan sebelumnya oleh saudara kita di wilayah kabupaten Cianjur. Hal itu dikarenakan adanya bencana gempa yang kedatangannya tidak bisa diterka oleh akal manusia.

Lantas sebagai saudara se-tanah air, apa yang sudah kita berikan?
Menghapus kesedihan dari saudara kita yang terkena bencana memang tidak mudah. Tetapi, kita bisa turut membantu dengan cara berdo’a, berdonasi uang, pakaian, makanan bahkan tenaga yang dapat meringankan beban mereka.

“Sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat”. Lantas, apakah kita sudah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama?*

Sipa Suci Lestari, mahasiswa Prodi IlmuJurnalistik Fidkom Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, tinggal di Bandung_

Leave a Response