Agama

Mengontrol dan Mengendalikan Amarah

Mengontrol dan Mengendalikan Amarah

175views

Oleh Chaidir Syam ( Bupati Kabupaten Maros) 

SALAH  satu senjata setan untuk mengoda manusia adalah dengan marah , karena dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia, karena marah, orang bisa melupakan Allah SWT dan dengan mudah menjadi kafir, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci maki, ngamuk habis habisan.

Menyadari hal ini, Islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati hati ketika emosi yang menyebabkan marah.

Ketika kita sedang marah, Islam sangat menganjurkan kita untuk bersikap diam, dan jika memang perlu bicara, maka tenangkanlah diri untuk sejenak, jangan sampai emosi menguasai pikiran dan tindakan kita, karena hal itu seringkali membawa pada hal yang merugi.

Marah merupakan tabiat fitrah manusia, karena itu, Islam tidak melarang manusia untuk marah, namum kita harus biaa mengontrol dan mengendali kan.
Dalam kondisi tertentu bahkan dalam Islam, ada marah yang nilainya ibadah, yaitu marah karena Allah, yaitu marah karena membela syariat Allah.

Firman Allah SWT “… Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku (Allah)” (QS. Yusuf : 53)

“Dan jika syetan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui”(QS. Al-A’raf : 200)

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa dosa besar dan perbuatan perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf”(QS. Asy Syuura : 37)

“… (Orang yang bertaqwa, yaitu) Orang orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang orang yang berbuat kebajikan”(QS. Ali Imran : 134)

“Dan orang orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya (Allah) dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguh nya syurgalah tempat tinggal(nya)”(QS. An Nazi‘at : 40-41)

Hadits Rasulullah SAW “Jangan marah, bagimu surga”
(HR. Thabrani, “Jika kalian marah, diamlah”(HR. Ahmad)

“Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang, (yaitu) jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajii (saya berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk)” (HR. Bukhari, Muslim)

“Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk, karena dengan itu marahnya bisa hilang, jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur” (HR. Ahmad, Abu Dawud)

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki” (HR. Abu Daud, Turmudzi)

“Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya, siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat”(HR. Ibnu Abi Dunya)

“Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu” (HR. Ahmad, Abu Dawud)

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya di saat marah”
(HR. Bukhari)

“Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia, tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya. ? maka barangsiapa yang mendapat kan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud)” (HR. Tirmidzi)

“Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah”
(HR. Muslim). Penulis adalah Penggiat Literasi & Bupati Maros

Leave a Response