OpiniPendidikan

Meratapi Ironi Kurkulum Merdeka, Siswa Belajar Mandiri, Guru Sibuk Sendiri

Ironi Kurkulum Merdeka, Siswa Belajar Mandiri, Guru Sibuk Sendiri

189views

Oleh Rianto Muradi

KARAKTERISTIK– Kurikulum Merdeka esensinya pembelajaran berbasis projek, melalui projek penguatan Profile Pelajar Pancasila (P.5),  berfokus kepada materi esensial sehingga memiliki waktu yang cukup untuk mendalami kompetensi dasar ( literasi dasar & numerasi). Fleksiblelitas dalam pembelajaran dengan menyesuaikan kemampuan siswa, serta konteks dan muatan lokal.

PRO– dan kontra akhirnya mewarnai penberapan Kurikulum meredeka bagi siswa, Anda pilih yang mana, ngakali murid agar fokus admintrasi atau  ngakali adminitrasi untuk bisa fokus kepada murid. Pada kenyataanya guru merdeka itu tidak dijajah  dengan adminitrasi yang menyita waktunya. Menjadi guru merdeka harus dengan aksi nyata

Kurikukum merdeka sudah sesuai ekpetasi masyarakata atau belum? Beberapa praktisi pendidikan seperti Nylla Ismayanti, S.Ps, M.Pd, Kepala  SDN- 62 Ciujung mengatakan, Mungkin .. bisa jadi ada yg berpandangan seperti itu .Dengan adanya Kurikulum Merdeka … Guru sibuk belajar, sehingga  sedikit meninggalkan  prioritas utamanya yaitu mendidik anak-anak. Sedangkan kondisi di lapangan di lingkungan sekolah  sifatnya relatif tergantung sekolah masing-masing. Resti Fitriani,.S.Pd guru kelas SDN-263 Rancasawo dengan tegas mengatakan, tidak juga.  Karena semua kembali kepada diri pribadi guru itu sendiri.  Faktor integritas, karakter, loyalitas pribadi gurunya akan berdampak pada cara guru tersebut menyikapi fenomena dalam kurikulum merdeka.

Guru dan kepala sekolah penggerak, Riska Rustianti, S.Pi, S.Pd, Cert MT  Kepala SD Uswatul  Islam Kota Bandung, berpendapat, ia mengatakan benar jika filosofinya kurang dipahami, karena semua dibangun atas dasar hukuman, pujian, dan penghargaan. Jadi motivasinya masih eksternal. Namun jika dibangun atas dasar konsep diri, disiplin positif maka semua upaya dibangun atas dasar ingin memperkuat konsep diri agar bisa membuat perubahan terbaik di kelasnya. Karena antara pekerjaan administrasi dan tugas menghamba pada muridnya, kontrolnya berada pada diri. Wallahu ‘alam semoga yang ditakutkan tidak benar.

“Betul sekali ya Bu Rizka, banyak hal yang harus menjadi bahan pertanyaan untuk merdeka di kurikulum sekarang ini. Kadang prihatin melihat merdeka artinya lebih parah dari CBSA atau Kurtilas (dengan kepanjangan yang berbeda), “ kata Desi Oktoriana Guru SDN-173 Neglasari, Kota Bandung.

Padahal menurut Desi, ini sebuah kesempatan bagi guru untuk berkreasi sepenuhnya demi murid agar bisa optimal dalam mengembangkan kemampuannya

Seorang kepala sekolah yang enggan disebut indentitasnya mengungapkan, sebenarnya jika melihat darinya yang seorang manajerial ( kepala sekolah. Pen ) justru tugas manajemen yang harus cerdik,  di kelas administrasi tinggal klik saja, karena dengan menggunakan twininor yang dikasih dinas pendidikan,pembelajaran lebih variatif, mang google menunggu dengan senang hati. Jika kelengkapan perangkat pembelajaran sudah siap otomatis guru tidak repot-repot membawa seabreg administrasi buat mengajar,siapkan print di dalam kelas, laktop yang benar, internet yang kenceng dan aman, semua anak akan membuka dan bertanya ditanyangan dengan fareasi yang menarik.  Justru yang harus dikaji ujar kepala sekolah ini, sakarang SKP berbasis PMP, kasihan guru dan kepala sekolah harus ngutak- ngatik laptop demi penghargaan pemerintah yang akan diberikan, ketenangan guru akan tersita dengan sertifikat  yang harus ditempuh ((dimiliki), sebenarnya betul kita dituntut pintar, cukup lah dengan rajin literasi membacanya yang ditekankan,jangan dengan kesibukan-kesibukan ini

Sementara Guru SDN-37 Sabang Kota Bandung, Desy Marliana,.S.Kom, S.Pd, memberi alasan lain  tentang  Ironi Kurkulum  Merdeka, Siswa Belajar Mandiri, Guru Sibuk Sendiri yang dikatakan ada yang sependapat, namun ada juga yang tidak. Postingan  dan kritikan yang bagus.  Sehingga  guru juga bisa instropeksi diri, membenahi diri mengatur  waktu agar seimbang antara waktu mengajar dengan mempersiapkan adminitrasi.** (Penulis Penggiat Literasi dan Praktisi Media)

Leave a Response