Daerah

Miliarder Garut yang ‘Bermunculan’ di Kampung Pangauban Ternyara dari Padang

Miliarder Garut yang 'Bermunculan' di Kampung Pangauban Ternyara dari Padang

152views

GARUT, Bandungpos.id– Sebuah perkampungan warga di Kabupaten Garut sempat menjadi buah bibir warga  pada pertengahan tahun 2023 ini. Bukan perkampungan warga biasa, perkampungan ini dihuni puluhan ‘sultan’ dengan rumah gedongannya masing-masing. Perkampungan warga ini dijuluki ‘Kampung Miliarder’. Nama itu diambil, dari orang-orang kaya yang bermukim di sana. Perkampungan ini sebenarnya bernama Kampung Pangauban. Lokasinya berada persis di lereng Gunung Pangauban, Desa Jangkurang, Kecamatan Leles, Garut. Namun demikian menurut pengakuan Engkus salah seorang pengusaha Tas,  warga setempat, para miliarder Pangauan itu 70 warga pendatang dari Padang, Sumatra Barat, sedangkan miliarder peduduk asli  hanya 30 % -nya

Secara geografis, kampung ini sebenarnya lebih dekat dengan daerah Cijapati di Kabupaten Bandung, ketimbang dengan pusat perkotaan Garut yang jaraknya mencapai sekitar 25 kilometer.

Beberapa waktu lalu, awak media berkesempatan berkunjung ke sana. Selama perjalanan, ditemani oleh Kepala Dusun II di Desa Pangauban, Deni Ramdani. Saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, panorama gedung-gedung mewah langsung terlihat.

Di kiri dan kanan jalan aspal bercampur pasir, rumah-rumah  mewah terlihat berdiri megah. Hal ini, jelas tak biasa jika dibandingkan dengan perkampungan warga lain, setidaknya di Kabupaten Garut. Sebab, yang lebih mencengangkan lagi, informasinya, ada lebih dari 50 ‘rumah sultan’ yang ada di Kampung Pangauban.

Rumah-rumah ‘sultan’ yang ada di Kampung Pangauban ini juga terbilang memiliki desain yang modern. Bahkan ada beberapa rumah, yang memiliki dua pilar menjulang di bagian depan, mirip seperti yang ada di The White House yang ada di Amerika Serikat.

Setelah ditelusuri lebih jauh, rumah-rumah gedong mewah yang ada di Kampung Pangauban ternyata merupakan milik bos-bos produsen pembuatan tas rumahan yang ada di kampung tersebut.

“Itu milik bos tas. Memang jumlahnya banyak di Pangauban,” ujar Deni.

Para bos tas pemilik rumah sultan itu, kata Deni, telah eksis sejak lama di Kampung Pangauban. Mereka adalah warga setempat yang sudah menekuni usaha pembuatan tas sejak lama. “Jenis tasnya ya tas untuk anak sekolah. Tapi dikirimnya se-Indonesia,” ungkap Deni.

Para bos perajin tas yang ada di Kampung Pangauban sendiri, diketahui memiliki omzet yang tak main-main. Mereka, dikabarkan bahkan bisa meraup cuan hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya. Mereka diketahui punya omzet hingga Rp 600 juta per bulan.

Satu dari puluhan bos tas yang ada di ‘Kampung Miliarder’ ini, adalah Enjang. Pria kelahiran tahun 1974 yang sehari-harinya disebut warga setempat dengan panggilan Haji Amang.

Haji Amang memulai kariernya sebagai tukang jahit. Sejak dulu, pria yang kabarnya bahkan tak lulus dari bangku Sekolah Dasar (SD) ini, sudah rajin menekuni dunia menjahit tas. Haji Amang, ‘buburuh’ kepada para bos-bos sebelumnya dalam membuat tas. Dia kemudian kerap ikut dalam mengedarkan tas buatannya, ke pasar-pasar tradisional.
“Kalau kata orang sini, ngampas (mengedarkan barang). Ke pasar-pasar. Ke Bandung, Jakarta, Sumatera,” katanya.

Berbekal ilmu seadanya, Haji Amang lalu memberanikan diri membuat tas sendiri dalam jumlah yang sedikit. Dia dan istrinya kemudian susah payah mengedarkan tas-tas buatannya kepada konsumen.

“Modal nekat saja. Yang menjadi perih itu, tas belum tentu laku. Kadang laku, kadang enggak sama sekali,” katanya.

Perjuangan yang dimulainya dari tahun 2000-an itu, akhirnya membuahkan hasil di sekitaran tahun 2018. Bisnisnya melejit usai tas buatannya banyak dilirik konsumen dari berbagai daerah. Uang yang tadinya susah payah dicari, sejak saat itu datang sendiri.
“Sekarang yang beli datang sendiri ke sini,” ujar Haji Amang.

Kepada awak media, Haji Amang berbagi kisah terpahit, yang pernah dialaminya selama berjualan tas. Dia mengaku pernah ditipu oleh seorang dokter asal Tasikmalaya.

“Jadi ceritanya ngambil barang, saya dikasih giro. Barangnya sudah diambil, ternyata gironya palsu. Uang yang hilang ratusan juta (rupiah),” katanya.

Terkait produksi milik bos-bos besar ini, diketahui dikerjakan oleh masyarakat setempat. Makanya, di Kampung Pangauban sendiri, hampir seluruh warganya ikut nyambi buburuh bikin tas, di samping bertani. Makanya, menurut Kadus Deni, hampir tidak ada pengangguran di Kampung Pangauban.*** *(rm/BNN)

Leave a Response