Kolom Mahasiswa
Oleh: Rico Miraj Irawan
MOTOR tua di tahun 90 ke-bawah masih banyak berkeliaran dan digunakan di zaman yang sudah modern ini. Motor tua sering bermasalah pada mesin mengingat teknologi lama yang sudah usang masih dipaksa menyala. Kendati demikian para pecinta motor tua menikmati segala problematika mesin tua yang banyak drama.
Para pengguna motor tua selalu punya slogan “ada cerita di setiap kilometernya”. Artinya dalam setiap perjalanannya selalu ada trouble entah itu mesin bocor oli, listrik mati, atau bahkan sampai rangka motor yang terasa seperti mau patah.
Megnapa sih motor di era itu masih banyak penggemarnya? Kebanyakan orang bilang menggunakan motor tua itu unik selain bentuk yang keren tapi klasik irama yang dihasilkan kenalpot pun memanjakan telinga penggunanya. Suara dari kenalpot motor tua disebut-sebut seperti lagu karena suaranya keras tapi berseni.
Melihat pasar motor tua tinggi peminat menjadikan beberapa perusahaan motor modern menciptakan motor dengan mesin berteknologi terkini tetapi dengan bentuk desain klasik ala motor tahun 90 ke bawah. Melihat motor-motor modern dengan bentuk klasik tidak menurunkan minat pembeli atas motor klasik yang asli.
Motor klasik atau motor tua selalu punya cara unik untuk menarik minat para kawula muda, apalagi dengan munculnya film “Dilan 1990” yang membuat citra motor tua masih tetap oke dan keren meski dipakai anak muda. Mungkin terdengar aneh “anak muda tapi selera kok tua?”. Tapi memang itulah realitas yang terjadi sekarang. Ini mungkin karena anak muda kerap kali mengikuti tren yang ada dan film “Dilan 1990” adalah salah satu fenomena yang membawakan tren itu kepada anak muda zaman sekarang (generasi milenial).
“Klasik tapi asik” itulah kata-kata mutiara yang kerap kali berseliweran di caption instagram generasi milenial. Seiring tren film menggunakan motor tua mencuat dikehidupan nyatapun tren ini terbawa, sampai-sampai banyak terciptanya komunitas-komunitas pencinta motor tua yang baru, membuat tipe motor tua terus mengalir.
Terciptanya komunitas-komunitas motor tua di kota-kota besar membuat banyak kelompok anak muda lainnya ingin juga mendirikan komunitas motor tua meski di kota kecil. Dengan begitu tentu minat motor tua akan terus ada dan melonjak apa lagi kini selera anak muda sudah banyak berubah haluan ke yang klasik tapi asik.
Dengan berkecambahnya komunitas motor tua minat akan motor tua itu sendiri akan terus bertahan, karena motor ibarat karya seni yang tak akan mati ditelan zaman. Selain itu juga harga motor tua yang kian semakin mahal tiap tahunnya menjadikannya sebuah investasi jikalau memilikinya.
Rico Miraj Irawan, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan, penggemar dan pemilik motor tua, tinggal di Cimahi.





