
Oleh Zulfri AR ( Tanah Papua)
NASIB-– penggiat literasi kita sangat menyedihkan, lesu darah, bahkan tertinggal. Sumanta Bogor, Jawa Barat, penggerak literasi di Banten mengeluh di grup WA GPMB Merdeka Belajar. Dia merasa, pemerintah termasuk organisasi underbownya, GPMB, tidak peduli dengan penggiat literasi sekali pun kondisinya sekarat.
Hal yang sama pernah dikeluhkan pak Ari di Semarang, Jawa Tengah. Harus mengelola rumah bacanya dengan biaya sendiri karena tersandera idealisme.
Sementara itu ada berita, Perpusnas berpesta pora mengadakan acara raker, rakor, meeting, gebyar perpusnas, dll yang biayanya seperti disorot media mencapai 9,5 M. Saya saja pelanggan setia nonton zoomnya Perpusnas, bosen yang dibicarakan itu itu saja.
Di satu sisi, para penggiat literasi swasta yang harusnya diperhatikan malah keleleran, untuk makan saja susah.
Dari pengamatan saya, penggiat literasi mandiri berjalan sendiri-sendiri. Seperti ego sektoral. Ada GPMB (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca) atau organisasi bentukan Perpusnas, seperti bingung mau berbuat apa dengan alasan tak punya anggaran.
Seperti dikatakan penggiat literasi dari Papua, Zufri AR seharusnya Perpusnas memasukkan anggaran untuk operasional GPMB. Ya memang aneh, Ormas underbouw kementerian bahkan yayasan saja ada anggarannya, masakkan GPMB yang dibentuk Perpusnas gak dikasih anggaran sepeser pun.
Bertahan Karena Idealisme
Hampir seluruh penggiat literasi, mengeluarkan biaya beli buku dan bangun rumah baca dari koceknya sendiri. Itupun mengeluh tidak ada perhatian dari Perpusda masing-masing. Boro-boro gaji atau honor.
Saya bahkan tidak tahu para penggerak literasi dapat uang dari mana? Beruntung yang punya usaha penerbit buku.
atau pegawai pemerintah. “Yang saya termasuk keluarga saya habis hanya untuk bikin taman bacaan, karena saya cinta literasi, ” kata @Ari. Ia mengaku pernah dapat Betor dari Dinas Perpustakaan Semarang. Tapi betor kan ada biaya bensin, service dan perbaikannya. Siapa yang nanggung? “Ya saya,” ujar Pak Ari. Belum terhitung biaya makannya ketika mangkal di sekolah-sekolah. Wajar kalau Pak Ari mengeluh. Dia coba buka angkringan di rumah yang sekaligus rumah bacanya. Harapannya pengunjung rumah bacanya gratis, tapi jajan di angkringannya. Itupun ada yang nyinyir, bisnis kok di rumah baca.
Kembali ke Sumanta di Bogor, merasa kehabisan darah, gak tahu minta bantuan kemana? Disaat mereka bingung cari sumber dana, banyak yang minta sumbangan buku pada mereka. “Kami sering diminta sumbangan buku oleh perpustakaan komunitas, sekolah dll.” Sumanta mengaku, boro-boro nyumbang buku,
buku di rumah bacanya saja kosong dan buku-bukunya sudah pada koyak. Sumanta bilang, rumah bacanya sudah sekarat, gak sanggup bayar kontrakannya. Sementara itu Perpusnas atau Dinas Perpusda, GPMB cuma bisa nonton “Titanic” Yang mau karam. Sumanta di grup GPMB Merdeka Belajar walau sudah membunyikan tanda SOS, semua penggerak literasi, hanya terpaku menatap langit. Dan, paling bisa berseru, Inalillahi wainnailaihi Rojiun.
Sekadar Saran
Kami dari Alfateta Literasi Indonesia dan Germenbali (Gerakan Revolusi Mental Berbasis Literasi), bisa bertahan karena kami lembaga pelatihan dan konsultan. Dari pengalaman kami memberi pelatihan super speed reading ke sekolah-sekolah, kami hanya bisa memberikan masukan dan saran-saran kepada Perpusnas, Perpusda, GPMB… Itu pun kalau mau diterima, kalau nggak ya mau bilang apa?
Mungkin masukkan ini pahit, dan terkesan jumawa. Tapi ini adalah kenyataan. Kita sudah era industri 4.0/5.0, era digitalisasi. Masihkah kita menggunakan cara-cara konvensional untuk meningkatkan minat baca kegemaran membaca dan budaya literasi?
Buku Sudah Ditinggalkan?
Penggerak literasi dan dinas perpustakaan pasti mengakui, buku tercetak sudah mulai ditinggalkan. Ini adalah fakta. Anak-anak muda kita sudah tidak lagi terlihat membaca buku di kendaraan umum bahkan di perpustakaan sekolahnya, mereka beralih ke gadget. Ini fakta. Tapi semua diam, seolah tutup mata akan kondisi ini karena tak punya solusi.
Para penggerak literasi mungkin tak bisa menerima kenyataan ini. Dengan hati yang sedih saya katakan, cobalah kita mulai berpikir ke depan, melihat fakta saat ini, bahwa anak-anak muda kita sudah mengganti buku dengan gadget.
Mungkin banyak kita tidak menerima kenyataan ini, tapi kita harus menjadi Power Rangers alias berubah. Bagaimana kita harus menghadapi semua ini?
Mengubah Buku Jadi Ebook.
Kita harus segera mengubah buku jadi ebook.* Zufri AR, ketua GPMB Papua dan penerima Award dari Perpusnas, pernah mengatakan, bahwa Papua mendapat jatah 1 kontainer buku dari Perpusnas, namun tidak bisa dikirim ke Papua karena ongkos kirimnya mahal. Perpusnas dan Perpusda Papua tidak bersedia menanggungnya. Terus bagaimana nasib masyarakat Papua?
Melihat fakta itu, kita seharusnya secepat kilat bertransformasi. Tugas kementerian pendidikan mengajarkan cara membaca ebook dan meningkatkan minat baca, gemar membaca, dan budaya literasi. Tugas perpusnas bukan lagi membeli buku cetak untuk perpustakaan di seluruh indonesia, tapi membeli e-book langsung dari penulis dan menyebarluaskannya secara gratis kepada masyarakat melalui perpustakaan digital.
Tugas Kemeninfo menyediakan sarana internet dan intranet di seluruh penjuru tanah air, agar ebook bisa diakses.
Ebook, Video, E-Course
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sangatlah pesat terutama di era industri 4.0/50 ini. Pemerintah harus segera menyikapi dengan cepat, jika tidak, kita akan menjadi negara yang kalah. Bangsa kita akan menjadi bodoh yang berakibat pada gejolak masyarakat yang berujung pada Indonesia dalam bahaya.
Pemerintah harus menyadari, buku sudah mulai ditinggalkan. Pemerintah harus bergerak cepat, menciptakan sarana akses informasi dan pembelajaran jarak jauh secepatnya, seperti ebook dan e-course. Jika tidak kita pasti tertinggal.
Sejahterakan penulis penulis.
Saat ini penulis buku di Indonesia sangat menderita, karena buku mereka dengan luasa dibajak dan dijual di marketplace dengan harga yang gilole, cuma Rp 2.000. Pemerintah cuma melihat dan mengucapkan “Guru berduka cita”
Jika ini dibiarkan maka penulis buku kita akan “rungkad”. Kita bukan saja mengimpor beras, gula, terigu, sayur-sayuran, buah-buahan, garam dan air dari luar negeri, tapi juga kita akan mengimpor ilmu pengetahuan. Para cerdik cendikia , tak bernafsu menulis buku atau mentransformasikan pengetahuannya. Kecuali yang idealis, itupun tinggal nunggu “mati saja”.
Dana cetak dan ongkos kirim buku bisa untuk membeli ebook yang dinilai bermutu. Biaya cetak 1 judul buku bisa untuk membeli 10 hak edar ebook langsung dari penulis, bukan penerbit. Sekarang dengan software word office pun penulis bisa mendesain dan membuat ebook sendiri. Tidak perlu penerbit atau percetakan.
Dengan pembelian ebook oleh pemerintah, penulis tidak keberatan pemerintah menyebarluaskan buku mereka tanpa batas melalui perpustakaan digital.
Pembajakan tidak akan ada lagi, karena buku memang diberikan.
Penggunaan Intranet
Nurhayati, kepala Dinas perpustakaan Yahukimo mengatakan tahun depan ada anggaran 11 Miliar untuk pendirian perpustakaan di daerahnya. Itu baru gedungnya, belum buku-bukunya. Anda bisa bayangkan berapa triliun yang dibutuhkan untuk membangun perpustakaan di daerah daerah terpencil di seluruh Indonesia, seperti Yahukimo?
Padahal jika perpustakaan konvensional bertransformasi ke perpustakaan digital dan intranet, kita mungkin cuma butuh kurang dari 3 M untuk membangun perpustakaan digital bahkan termasuk perpustakaan digital untuk tiap sekolah di kabupaten.. Itu sudah termasuk gedung, perangkat komputer, kindle atau tab, intranet dan jutaan ebook.
Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Pedalaman
Saya pernah menyampaikan ide, di depan istri Bupati Yahukimo yang Bunda Baca Yahukimo, saat menjadi pembicara tamu. Saya katakan menurut Staf Perpustakaan dan GPMB Propinsi Papua Elly, IPLM (Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat) Yahukimo nomor 2 terendah di Papua, dan Papua sendiri terendah di Indonesia.Saya menggaransi, mampu meningkatkan minat baca masyarakat Papua, menjadi yang tertinggi di Indonesia. Sama seperti yang dilakukan oleh Profesor Yohanes Surya, bisa membuktikan mengubah anak Papua yang dianggap bodoh, menjadi juara Olimpiade matematika dan sains tingkat dunia.
Kami ingin membuktikan dengan metode SSRA, kami bisa meningkatkan minat baca masyarakat, sekalipun di pelosok desa yang terisolir. Untuk Kota besar, saya menggaransi kenaikan sampai 1000%.
Super Speed Reading Alfateta
Mengapa tidak menamakan super speed reading saja, tapi ada Alfatetanya. Karena SSRA bukan sekedar membaca sangat cepat, tapi juga memiliki paket strategi bagaimana caranya kita bisa membaca cepat, benar dan efektif. SSRA memiliki garansi sampai 1000%.
SSRA bukan saja meningkatkan minat baca, tapi juga kegemaran baca dan budaya literasi. SSRA hanya berhasil jika ada komitmen guru, kepala sekolah, dan pemerintah untuk menyelenggarakan wajib baca terukur dan kompetisi.
Minat baca bangsa kita tidak akan pernah bisa naik, selama kita tak mengajarkan cara baca cepat. Dan pengajaran baca cepat pun akan gagal untuk meningkatkan minat baca, jika guru, kepala sekolah, Kementerian Pendidikan, perpusnas, dan semua Kementerian yang bertanggung jawab pada literasi tidak memberikan komitmen.
Komitmen inilah yang kami butuhkan sehingga kami harus menyurati Presiden sampai 18 kali sampai hari ini, termasuk kementerian pendidikan dan perpusnas.
Suntik Penggiat Literasi.
Melihat cerita saya di awal tulisan ini, kondisi penggiat literasi kita hidup segan mati tak mau. Pemerintah peduli literasi, itu omong kosong. Karena memang tidak ada bantuan pemerintah saat hidup mereka pun terseok-seok.
Bagaimana pun mereka perlu suntikan untuk hidup, bukan suntik mati.
Kami sebagai lembaga yang bergerak dibidang sosio bisnis di bidang literasi, ingin membantu. Tapi pemerintah tidak menunjukkan minat yang tinggi untuk meningkatkan budaya literasi kita.
Pemerintah tidak kreatif mengatasi kondisi ini. Ki yang berniat membantu pemerintah juga kesulitan. Pola pikir pemerintah masih jadul, konvensional dan berbasis proyek. Seolah tidak punya ide lain untuk meningkatkan minat baca, kecuali membeli buku dan menyebarluaskannya dan membuat statistiknya.
Vitamin Penggiat Literasi Kami ingin memberikan vitamin anti lapar pada penggerak literasi, agar mereka bisa mendapatkan uang dari pondok bacanya, tapi dari pekerjaan sebagai seorang trainer pelatihan SSRA ke sekolah-sekolah, ke kampus. Mereka juga harus bisa membuat ebook. Pemerintah gak usah menggaji mereka, tapi belilah ebook atau ecourse yang mereka buat.
Tapi apa daya, walau kami sudah menyurati presiden 18 kali, kementerian pendidikan lebih dari 10 kali dan Perpusnas 5 kali, mereka tetap membisu. Bahkan kami sudah presentasi ke-10 lembaga negara dengan difasilitasi oleh Kemenko PMK, tetap tak ada tanda tanda mau bergerak. Padahal kami memberi jaminan kami bisa meningkatkan minat baca sampai 1000%. Tetap gak ada reaksi, seperti “mayat hidup”. Ini menunjukkan, kita memang tidak mau, bukan tidak bisa.
Jika Pemerintah mau mendukung, moril saja, kami akan berusaha bersama dengan penggerak literasi, mensosialisasikan SSRA ini. Karena tanpa dukungan pemerintah, yang terjadi seperti saat ini, guru dan kepala sekolah juga tidak ada niat atau minat untuk mempelajari SSRA pada hal anggaran ada. Mereka tidak punya cara meningkatkan budaya literasi, sekalipun kami tawarkan gratis pelatihan SSRA 2 jam, bahkan kami bantu carikan dananya dari CSR jika biaya jadi kendala, mereka tetap diam seperti mayat hidup tadi. Mereka cuma bisa menyajikan rapor statistik literasi mereka naik sedikit atau turun..
Sekali lagi, ini menunjukkan memang kita tidak mau, bukan tidak bisa. Kita tidak mau berubah. Saya nggak tahu apa yang ada di balik kepala para pejabat kita yang bertanggung jawab pada literasi. Kenapa kita biarkan rakyat kita bodoh yang dibuktikan dari ketidakmampuan pemerintah meningkatkan minat baca dan mutu pendidikanya kita dari tahun ke tahun. Atau mungkin bukan rakyat yang dibuat bodoh tapi memang pejabat kita tidak punya jalan keluar atau solusi. Diberi solusi oleh masyarakat, gengsi. Ego sektoral muncul. Rakyat kok ngajari pemerintah. Mereka lupa gajah kalah sama semut, Goliath kalah dengan David.
Percuma Ganti Menteri atau Presiden
Faktanya pemerintah memang gak punya solusi. Sekalipun kita sudah gonta-ganti kurikulum, gonta-ganti menteri, gonta-ganti Presiden tetap saja kita belum punya solusi. Rakyat cuma di PHPin.
Ya sudahlah mau bilang apa. Semoga pejabat pemerintah yang bertanggung jawab pada literasi, bangun dari mati surinya. **Penulis Penggiat Literasi Jayapura, Irian Jaya, PeraihPenerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional





