Kolom Mahasiswa
Oleh Umar Faris Praja Utama
PERKEMBANGAN teknologi telah membawa kita ke era digitalisasi. Hampir semua aspek kehidupan kita dipermudah dengan kehadiran teknologi digital. Era digital hadir sebagai karya manusia yang menginginkan efisiensi, maka bersamaan dengan berjalannya waktu teknologi juga berkembang dengan pesat.
Geografis bukan lagi batasan manusia dalam beraktivitas. Hampir seluruh kegiatan dapat dengan mudah diakses secara online. Dari mulai berkomunikasi, berbelanja melalui situs online, bahkan bekerja dan belajar dapat kita lakukan secara online.
Era digital telah memberikan sisi positif bagi kehidupan manusia, namun kita juga perlu mewaspadai sisi negatifnya yaitu hadirnya produk pinjaman online.
Berbagai tuntutan hidup mendorong masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Keadaan ini juga diperparah dengan begitu banyaknya informasi yang hadir dimasyarakat.
Secara tidak sadar beberapa anggota masyarakat terus menginginkan yang lebih, sebagai usahanya untuk tetap eksis di era digital ini. Maka keadaan ini menjadi ladang, untuk mereka yang ingin berbisnis pinjaman online.
Pinjol. Itulah sapaan akrab dimasyarakat, seolah-olah mereka telah bersahabat. Pinjaman secara online kerap kali menjadi solusi cepat, untuk mereka yang membutuhkan dana darurat. Persyaratan yang cukup sederhana, juga dana yang dapat diajukan dengan mudah melalui aplikasi secara online.
Telah menjadi alasan bagi masyarakat memilih pinjaman secara online, daripada melakukan pinjaman secara konvensional.
Tapi tidak semua persahabatan berkahir dengan indah. Kadang kala berujung pengkhiatan. Kemudahan pinjaman online yang tidak selalu menjadi solusi, bisa menjadi bomerang. Pinjaman dengan suku bunga yang tinggi, waktu jatuh tempo yang tidak sesuai, juga akses terhadap data pribadi. Merupakan masalah yang menghampiri, belum lagi penagihan yang kerap kali dilakukan dengan cara yang kasar serta teror.
Tidak semua pinjaman online itu ilegal, namun tidak semua masalah kebutuhan diselesaikan dengan melakukan pinjaman. Menyadari batas kemampuan, serta perlunya literasi sebelum melakukan pinjaman itu penting. Hal ini diperlukan agar kita tidak terjebak, ke dalam jeratan hutang yang tak terselesaikan.*
Umar Faris Praja Utama, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan, peminat teknologi, tinggal di Bandung.





