Opini

Provokasi Menulis

575views

Kolom Sosial Politik
Oleh Emeraldy Chatra

SUDAH sebulan lebih pikiran saya tertuju pada satu titik, yaitu memprovokasi orang agar menulis. Saya menuliskan provokasi itu di platform apa saja: Facebook, WhatsApp, Telegram. Tidak peduli apakah tulisan saya dibaca atau tidak. Maunya apa sIh?

Saya menyadari dan meyakini bahwa menulis adalah sumber kekuatan masyarakat sipil. Sejarah manusia mulai dari peradaban Sumeria, Mesir, Arab, China, India, dan Eropa sangat mendukung kesadaran itu. Mengapa tidak lahir peradaban besar di Afrika dan Amerika Latin terjawab dengan sendirinya.

Menulis bukan sekadar menyusun huruf membentuk kata dan kalimat. Tidak sesederhana itu. Menulis melibatkan pikiran, keterampilan dan kesadaran etis. Orang yang tidak cukup punya pikiran tidak akan mampu menulis dengan baik.

Provokasi agar orang menulis berarti juga provokasi agar orang berpikir, mengasah keterampilan dan mengembangkan etika komunikasinya. Bukankah bangsa yang maju adalah bangsa yang punya banyak pemikir di dalamnya?

Secara teoritis umat manusia sudah lama move on dari tradisi lisan kepada tradisi menulis. Namun ironisnya tulisan-tulisan yang berpengaruh terhadap kehidupan kita saat ini justru lahir ketika sebagian besar manusia di bumi belum lagi melek tulisan. Karya-karya besar dari Ibnu Khaldun, At Tabari, Imam Bukhari, Imam Gazali, Immanuel Kant, Karl Marx, Adam Smith, bukanlah produk masyarakat kontemporer. Semua ditulis pada abad ke-19 ke belakang.

Karya-karya tulis kontemporer justru sangat sedikit yang mampu menggugat pemikiran intelektual masa lampau. Alih-alih menggugat, kebanyakan intelektual zaman tulis baca ini justru tak mampu melepaskan diri dari kejeniusan para pendahulunya. Hari ini mereka masih menyerah pada hukum-hukum yang dibuat oleh Newton, Archimedes, Aristoteles.

Kesanggupan manusia kontemporer nampaknya hanya menggoreng berbagai materi pemikiran yang sudah ditemukan berabad-abad silam. Teori politik modern tak lebih dari hasil gorengan pikiran Ibnu Khaldun, ditambah sedikit bumbu.

Selanjutnya metode penelitian ilmiah itu hasil penggorengan pikiran Aristoteles dan Plato. Teori-teori kamera yang canggih diperoleh dari menggoreng isi buku yang ditulis Hasan bin al-Haitsam (Alhazen). Kecerdasan buatan (artificial intelligence) tak akan ada kalau tidak menggoreng pikiran ilmuwan Persia, Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi.

Teori bumi bulat yang penuh bumbu mustahil ada kalau pada 600 SM Pythagoras tidak menentang kepercayaan kuno berusia ribuan tahun tentang bentuk bumi. Banyak lagi. Panjang daftar hasil penggorengan yang kita nikmati sekarang, yang materi dasarnya diperoleh dari tulisan-tulisan ilmuwan zaman dulu.

Mengapa penulis-penulis zaman sekarang hanya mampu menggoreng materi kuno dan memberi sedikit bumbu? Tentu akan banyak jawaban spekulatif yang bisa dibuat. Salah satunya, dari saya, karena kegiatan menulis tidak lagi murni didasari keinginan mencari dan menyebarkan kebenaran.

Perlu kita akui, dunia tulis menulis sekarang dikuasai kaum Yahudi. Aneka tulisan, mulai dari puisi, novel, buku-buku teks ilmiah, buku ilmiah populer semuanya dikuasai penulis Yahudi. Tidak satu bangsa pun di dunia yang mampu menandingi kemampuan orang Yahudi dalam menulis.

Tapi tujuan mereka menulis bercampur baur dengan tujuan politik yang ingin menguasai pikiran manusia. Dengan menguasai pikiran manusia mereka memperoleh kekuatan politik yang tak tertandingi. Kekuatan politik berkelindan dengan kekuatan ekonomi. Jadi menulis bagi mereka bukan untuk menyebarkan kebenaran yang sejati.

Apakah kita orang Indonesia melihat fenomena kedigdayaan kaum Yahudi dalam menulis? Harusnya melihat. Tapi saya meragukan itu. Buktinya, hingga sekarang kita tidak berjuang untuk menjadi penulis-penulis yang karyanya berpengaruh secara global.

Melihat keadaan seperti itulah saya memprovokasi orang agar menulis. Menulislah sebanyak-banyaknya! Sebagus-bagusnya. Hanya dalam dunia tulis menulis itulah kita mampu menandingi kaum Yahudi. Di dunia nyata hampir tidak mungkin lagi.*

Dr Emeraldy Chatra, M.Ikom, kolumnis, dosen senior dan Ketua Prodi S2 Komunikasi Universitas Abdalas (Unand), bermukim di Kota Padang, Sumatera Barat.

Leave a Response