Kolom Sosial Politik
Oleh: Ridhazia
ChatGPT (generative petranaied Transformer) model bahasa kecerdasan buatan besar (large language model) untuk merefleksikan komunikasi manusia. Meskipun memicu kekhawatiran, chatGPT telah disemai 100 juta penyukanya dalam dua bulan untuk diterima publik dunia.
Masih mau berdalih-dalih?
Walakin, potensi AI membuat kesalahan yang mengerikan sangat terbuka. Tapi menyempurnakannya dengan berusaha mengikuti cara kerja kognitif manusia, sebuah keniscayaan.
Saya membaca, di Denmark sebuah kelompok yang mendirikan Partai sintetis menggunakan kecerdasan buatan untuk menyusun kebijakan berdasarkan data. Yang disebut politik algoritma.
Di Jepang kini dikembangkan e-nlightement yakni perangkat lunak untuk menghafal ajaran agama dan sekaligus konsultasi terkait pencerahan. Israel telah menyerahkan urusan lalulintas kepada teknologi AI yang memproses data jalan secara real-time.*
Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Bart.





