Opini

Tabloid DeTIK Edisi 11 Mei 1994

489views

Kolom Media Lawas
Oleh: Kin Sanubary

TABLOID DeTIK merupakan surat kabar mingguan berita, opini dan politik. Tabloid DeTIK terbit dan beredar menjelang tumbangnya pemerintahan Orde Baru (Orba).

Tabloid DeTIK tirasnya mencapai 450.000 eksemplar. Berita politik menjadi bacaan paling diminati para pembaca. Sepak terjang para politikus intrik-intrik, serta kasus yang menyertainya banyak diintip para pembaca. Serta maraknya kasus hukum di Indonesia memancing minat masyarakat untuk mencari banyak informasi seputar hukum dan kasus-kasus besar di tanah air.

Tabloid DeTIK hadir di tengah-tengah masyarakat menyampaikan informasi secara jelas dan gamblang.

DeTIK dengan slogannya “Mingguan Bagi Yang Berpikir Merdeka” menjadi perintis tabloid sejenis yang tumbuh subur di era Reformasi.

Tabloid DeTIK dibredel pemerintah Orde Baru pada 21 Juni 1994 bersama dengan Majalah Tempo dan Majalah Editor. Surat Izin Terbit (SIT) dan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) kedua media itu dibekukan dan dilarang terbit dengan alasan mengganggu ketertiban umum dan demi keamanan negara.

~ EDDY TANSIL

Eddy Tansil diajukkan ke meja hijau, sebuah sidang besar yang mengajukkan pejabat tinggi negara setara presiden sebagai saksi. Persidangan Eddy Tansil menjadi kunci munculnya tersangka baru.

Eddy Tansil yang mempunyai nama aseli Tan Tjoe Hong alias Tan Tju Fuan kelahiran Ujung Pandang, 2 Februari 1954 dan menjabat sebagai presiden direktur kelompok usaha Golden Key Group diseret ke pengadilan sebagai terdakwa utama dalam skandal korupsi terbesar yang pernah terungkap di dalam sejarah Orde Baru.

Tidak sekadar dari nilai rupiahnya yang fantastis yaitu negara digasak Rp. 1,3 trilyun. Nama-nama besar terkait dalam kasus ini dan diajukan sebagai saksi. Ada tiga pejabat penting Indonesia yaitu mantan Menko Polkam (Menteri Koordinator Politik dan Keamanan) Sudomo yang menjabat sebagai Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Prof JB Sumarlin, yang juga mantan Menteri Keuangan dan Mantan Menteri Muda Keuangan Dr Nasruddin Sumintapura.

Ada juga tiga mantan Direktur Utama Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia) yaitu Subekti Ismaun, Towil Heryoto dan Sjahrizal juga mantan Bapindo lainnya F Bambang Kuncoro dan Adhi Sugondo. Seperti diketahui hingga kini kasus Eddy Tansil menguap, karena aktor utamanya Eddy Tansil kabur dari tahanan dan raib hingga kini.

~ Brigjen Roekmini Di Cekal

Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Brigjen Roekmini Koesoemo Astoeti lahir di Bojonegoro 14 September 1938, ibu dari dua anak kena cekal (cegah dan tangkal) sejak 1 Mei 1994. Akibatnya anggota Komnas HAM yang bersuara vokal ini gagal menjadi pembicara dalam seminar dan diskusi “Efektifitas Fungsi Komnas HAM”

~ ICKI Lahir

Kelahiran ICKI (Ikatan Cendikiawan Kebangsaan Indonesia) segera menimbulkan spekulasi kuat, jangan-jangan ICKI juga dijadikan kendaraan politik lain disamping untuk meng-counter sepak terjang ICMI, pendahilunya.

ICKI lahir seusai pertemuan 17 PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Universitas Krisnadwipayana (Unkris Jakarta) yang diprakasai oleh mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Alamsyah Ratu Perwiranagara.

Sebelumnya Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada Desember 1990 diproklamirkan di Malang, Jawa Timur. Banyak yang beranggapan ICMI tak lebih sebagai kendaraan politik baru untuk memperkuat “status quo”.

Keberadaan ICMI memang lebih terkesan sebagai organisasi politik ketimbang organisasi kaum cendikiawan. Dengan banyaknya anggota ICMI yang duduk di Golkar (Golongan Karya) di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) maupun Kabinet Pembangunan VI yang diwarnai oleh orang-orang dekat Habibie, tokoh No.1 ICMI. Sepak terjang ICMI identik dengan organisasi politik.

~Partai Rakyat Demokratik (PRD) Dibentuk

Lebih dari seratus mahasiswa dari berbagai kota hadir dan berkumpul di kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) yang beralamat di Jalan Diponegoro, Menteng Jakarta tanggal 2 Mei 1994.

Seperti dilansir berbagai koran, para mahasiswa tersebut tengah mencanangkan pembentukan partai politik. PRD terang-terangan didirikkan di tengah ancaman pembubaran terhadap organisasi massa seperti SBSI (Serikat Buruh Seluruh Indonesia) pimpinan tokoh buruh Muchtar Pakpahan.

Menko Polkam (Menteri Koordinator Politik dan Keamanan) Soesilo Soedarman dan Dirjen Sospol Depdagri Sutoyo NK menyatakan bahwa PRD tidak sah dan berlawanan dengan hukum, polisi akan membubarkan secara paksa organisasi tersebut.

PRD sudah membuka komisariat organisasi di beberapa kota di Pulau Jawa. Sugeng Bahagio terpilih menjadi ketua organisasi, jumlah anggotanya sesudah proklamasi PRD ada sekitar 150 orang. Adapun tokoh sentral PRD ketika itu, Budiman Sudjatmiko dan Adrian Napitupulu, dua tokoh PRD yang aktif menggalang massa di berbagai kota dan gigih melakukan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter Soeharto serta paling keras menentang Dwifungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

~ Kasus Pembunuhan Marsinah

Tiga tersangka kasus pembunuhan Marsinah divonis 12 tahun penjara. Palu ditangan Ketua Majelis Hakim Sarijanto telah diketukan. 12 tahun vonis dijatuhkan PN Surabaya (Pengadilan Negeri) untuk AS Prajogi, Bambang Wuryantoro dan Widayat. Masih ada 5 orang terdakwa lain yang berkasnya secara marathon diperiksa PN Sidoarjo dan PN Surabaya. Sementara seorang terdakwa lain Kapten Kusaeri hingga kini belum ada kejelasan lanjut akan diajukan ke Mahkamah Militer atau tidak.

Ada beberapa versi mengenai kematian Marsinah. Menurut teman-teman dekat Marsinah mulai tanggal 5 Mei 1993, Marsinah “melabrak” kantor Kodim Sidoarjo (Komando Distrik Militer) karena sakit hati terhadap Pasi Intel Kodim Sidoarjo yang turut mem-PHK kepada 13 rekan kerjanya.

Kapan tepat tewasnya Marsinah tanggal 5 atau 8 Mei 1993 masih menjadi teka-teki berbagai kalangan. Peristiwa dan misteri tempat pembunuhan Marsinah di Markas Kodim Sidoarjo, rumah Judi Susanto, Bos PT Catur Putra Surya pabrik tempat Marsinah bekerja atau tempat lain, masih menjadi teka-teki.

Semoga dengan mengulas dan membaca kembali Tabloid DeTIK era tahun 90an bisa membuka kembali kenangan dan peristiwa yang pernah terjadi yang mungkin tak tercatat dalam buku sejarah.*

Kin Sanubary, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Editor: D Ruswandi

Leave a Response