Kolom Sosial Politik

Makkah: I’ll be Missing You

265views

 

Oleh Dudy Imanudfin Effendi

ANTHONY  T. Hincks dalam “An Author of life” mengatakan kalimat melankolis, “Ke mana pun perginya, kamu akan tetap ada di hatiku”. Begitulah raut wajah yang nampak pada sebagian besarJama’ah haji saat pendorongan pulang ke kampung halamannya. Sebuah ekspresi rasa rindu yang akan muncul saat sudah di tanah air.

Selama di Tanah Suci Mekkah, pelbagai dinamika perjalanan hidup para jama’ah haji telah dilalui. Suka dan duka selama di tanah suci Mekkah, mereka rasakan. Itulah momen yang akan menjadi indah untuk selalu dikenang sepanjang masa. Bisa jadi, sebagian jama’ah haji saat bertamu cukup lama di Tanah Suci Mekkah menginginkan secepatnya pulang ke kampung halamannya. Tetapi momen suka dan duka yang telah dilalui di tanah suci ini justru akan menjadi memori yang terus dikenang.

Momen suka dan duka yang telah dilalui para jama’ah haji ini merupakan hakikat dari lahirnya sebuah kenangan. Theodor Seuss Geisel dalam “The Thinks You Can Think”, menyebutkan, terkadang kamu tidak akan pernah tahu nilai sebenarnya dari sebuah momen sampai itu menjadi sebuah kenangan.” Bisa jadi momen suka dan duka selama di tanah Suci sulit atau belum dipahami nilainya oleh para jama’ah haji. Tetapi saat kembali ke kampung halaman atau akan berpisah, momen itu menjadi sangat bernilai bagi kehidupan dan akan selalu dikenang sepanjang hayat mereka.

Ilustrasi sederhana, seorang anak ketika orang tuanya masih hidup. Kadang melupakan nilai kebaikan dan lupa berbakti kepada orang tuanya. Akan tetapi saat telah tiada, anaknya sering menanggis saat mengingat kenangan bersama orang tuanya ketika masih hidup. Kadang muncul rasa penyesalan, “kenapa menyia-yiakan atau abai untuk berbakti kepada orang tuanya ketika mereka masih hidup”. Inilah yang disebut dengan rasa rindu. Rasa cinta yang kadang terlambat untuk disikapi secara sungguh-sungguh, baik dalam beribadah, berbuat baik, disiplin dalam menjalankan tugas dan peran kehidupan.

Dalam konteks psikologis, realitas kerinduan akan lahir ketika orang memiliki ikatan emosional atau memiliki pengalaman yang membekas dalam dirinya. Saat berpisah cukup lama maka akan merasakan kehilangan. Munculnya rasa ini kadang sulit di rasionalisasi oleh pikiran orang yang mengalaminya.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin bab “al mahabbah wal Asy”, pernah menyebutkan bahwa rindu adalah konsekuensi dari adanya cinta terhadap suatu objek. Karena mencintai, kerinduan akan datang dengan sendirinya. Cinta dan rindu ibarat dua sisi koin yang sama, tidak bisa dipisahkan dan tidak bisa diingkari keberadaannya. Ilustrasi ini oleh Imam Al-Ghazali dilukiskan dengan kata, “rindu tidak bisa tergambar kecuali pada orang yang mencintai dan dicintai.”

Begitulah jama’ah haji datang ke tanah suci karena cinta dan rindu ingin berjumpa dengan Baitullah serta Rasulullah. Karena motivasi inilah, para jama’ah haji akan selalu mengenangnya. Walaupun bisa jadi ketika.mengenangnya ada rasa penyesalan, “kenapa tidak maksimal dan sungguh-sungguh beribadah saat diberikan kemudahan oleh Alloh untuk bisa datang ke tanah suci”.

Mengenang sebagai esensi dari kerinduan walau kadang menyesakkan, melelahkan, menyakitkan, dan bahkan melukai. Akan tetapi jika perjalanannya diawali dengan rasa cinta maka akan menjadi kenangan yang selalu dikenang dan bahkan ingin bertemu lagi. Imam al Ghazali, mengambarkan hal ini dengan bait indah, “Rindu walau didalamnya memiliki efek menyakitkan, tetap akan menyimpan suatu kenyamanan apabila terdapat harapan untuk bisa bertemu dengannya kembali (objek yang dirindukan).

Peterson dan Seligman dalam “Character Strengths and Virtues”, menyatakan bahwa rindu merupakan ekspresi transendensi manusia dalam bentuk keyakinan dan cintanya kepada objek yang dirindukannya. Dua hal ini akan melahirkan harapan sebagai ekspresi rindu dalam bentuk perhatian yang akan mengalir pada.pemahaman diri untuk bisa memaknai kehidupan dan keberadaannya selama di dunia.

Dalam momentum ibadah haji, kerinduan ini dapat melahirkan sikap altruistik (kerelaan) untuk semakin menyadari pentingnya hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia, baik secara etis (aspek doktrin), esoteris (aspek ritual) dan eksoteris (aspek penghayatan). Kerinduan yang bisa menaikkan grapik spritualitas seseorang yang sedang merindu.

Sepakat dengan Ryan dan Bohlin dalam, “Building Character: Practical Ways to Bring Moral Instruction to Life”, sebuah kerinduan yang akan melahirkan tiga unsur karakter kearifan, yakni: mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good) dan melakukan kebaikan (doing the good). Karakter yang dapat menjadi “habit” atau kebiasaan positif yang secara terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan oleh orang yang merindu.

Inilah, kenapa pengalaman di masa lalu itu kadang menjadi kenangan yang bisa menyadarkan seseorang dari hal-hal yang telah diabai atau tidak disikapi secara sungguh-sungguh terhadap objek yang dicintainya di masa lalu. Penyesalan yang kadang melahirkan pertauban dan perbaikan diri saat seseorang rindu terhadap salah satu momen di masa lalu.

Konon, rindu karena cinta bisa merobohkan tembok tebal ruang dan waktu. Rindu akan membangkitkan diri untuk melakukan transformasi kesadaran atas apa yang telah dilakukan di masa lalu. Dalam hal ini, Scorpions, sebuah band legendaris german melukiskan rasa rindu karena cinta dalam baitnya, “…Only love, Can bring down the wall someday, I will be there…If we’d go again, All the way from the start, I would try to change…”. Pun ungkapan P Diddy, seorang Rapper asal Amerika dalam “I’ll Be Missing You”, “I’ll be missin’ you, Thinkin’ of the day when you went away, What a life to take, what a bond to break…I’ll keep you, (mecca and) friend. Memories give me the strength.

Catatan sederhana yang diinspirasi saat pendorongan pulang jama’ah haji Indonesia telah menyimpulkan bahwa, “kita kadang abai atas tugas dan peran dalam ibadah dan kemanusiaan saat diberi kesempatan secara luas oleh Alloh di tanah suci atau di dunia. Saat rindu atas setiap kenangan didalamnya, penyesalan itu kadang muncul. Kenapa saat itu tidak benar-benar mengunakan kesempatan tersebut denab baik dan benar?.

Diakhir, semoga, rasa rindu para jama’ah haji saat pulang ke tanah air menjadi inspirasi dan motivasi untuk membangkitkan kesadaran dalam mengabdi kepada Tuhan dan dunia kemanusiaan.

Apa pun yang terjadi, suka dan duka yang teralami, setelah menjadi kenangan akan memunculkan kalimat indah, “I still loving you” dan “I’l be missing You”. Selamat Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1445 Hijriyah. *

  • Dudy Imanuddin Effendi, dosen senior dan Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling (BKI) Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati sosial keagamaan yang sedang bertugas dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia 2023 di Mekah dan Madinaj, Arab Saudi.  

Leave a Response