
Oleh Ridhazia
Timnas U23 kembali tersandung oleh Irak setelah sebelumnya gagal memetik kemenangan atas Uzbekistan. Hanya satu peluang lagi melawan Guinea jika ingin mendapat tiket berlaga di Olimpiade Paris 2024.
Target timnas mengikuti Olimpiade sangat beralasan. Kompetisi sekaligus pesta olahraga bukan saja terbesar dan terkemuka, juga tertua di dunia. Setiap even sekurang-kurangnya diikuti lebih dari 200 negara yang sebelumnya telah terseleksi dalam prestasi.
Indonesia pertama kali mengikuti Olimpiade Helsinki pada 1952 di Finlandia. Kecuali pada tahun 1964 dan 1980. Sedangkan timnas Indonesia menembus ajang pesta olahraga bergengsi kali pertama pada Olimpiade Melbourne di Australia, tahun 1956.
Cabang sepakbola saat itu diikuti 11 negara yaitu Yugoslavia, Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan India. Selain timnas Uni Soviet, Jerman, Britania Raya dan Thailand. Dan, timnas Indonesia yang dilatih Toni Pogacnik (1913-1978) asal Kroasia harus menelan kekalahan 0-4 dari Uni Soviet.
Citius, Altius, Fortius!
Olimpiade memang luar biasa dan menjadi puncak prestasi olahraga sebagaimana semboyan “Citius, Altius, Fortius!“. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara bebas : lebih Cepat, lebih Tinggi, lebih Kuat.
Semboyan legendaris itu diperkenalkan oleh Bapak Olimpiade Pierre de Coubertin (1863-1937) menjelang persiapan penyelenggaraan Olimpiade pertama pada akhir abad XIX yang sekaligus menjadi permulaan Olimpiade moderen.
Olimpiade moderen pertama kali diadakan pada 1896 di Athena, Yunani. Sedangkan yang terakhir Olimpiade Beijing tahun 2022. Berikutnya Olimpiade Paris tahun 2024 di Perancis.
Era Kuno
Olimpiade era Yunani kuno hanya sampai tahun 393 M. Dihentikan oleh Theodosius I dari Kekaisaran Romawi yang menguasai hampir seluruh Eropa. Alasan penghentian karena situasi politik masa itu sudah tak memungkinkan lagi adanya pertemuan olahraga dengan alasan agama dan kepercayaan.
Olimpiade Kuno pada awalnya identik dengan cabang atletik yang sudah dipertandingkan sejak hampir 3000 tahun lalu. Setiap atlet pemenang diganjar hadiah rangkaian mahkota daun zaitun, bukan medali logam emas perak atau perunggu. Setiba di kampung halamannya, para juara akan mendapat ganjaran hadiah uang dan benda-benda bergengsi.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cleunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.



