
Oleh Ridhazia
Kontroversi VAR terjadi sepanjang laga Timnas Indonesia U-23 vs Uzbekistan, Senin (29/4/2024). Wasit mengubah keputusan setelah melihat VAR. Setidaknya tiga kali tayangan VAR merugikan Garuda Muda.
Tenyata kontroversi VAR tejadi di seluruh laga sepakbola sejak digunakan tahun 2016. Alih-alih keputusan itu obyektif malah memicu rasa frustrasi pemain. Bahkan menambah kebingungan. Dan, mengesalkan penonton.
Subyektivitas dalam beberapa keputusan VAR oleh wasit terutama dalam kasus handball atau penilaian offside di ruang yang sangat sempit itu meningkatkan perdebatan dan menghapus harapan.
Sebagaimana dialami dialami Muhammad Ferarri telah ketika pada menit ke -61 pada babak kedua membobol gawang Uzbekistan. Juga ketika peluang emas pinalti pada menit ke-25 Witan Sulaeman yang dijatuhkan lawan dimentahkan wasit setelah melihat VAR.
Frustrasi!
Para pebola profesional dalam liga Inggris juga merasakan frustrasi dan mengalami kerugian dengan keberadaan VAR.
Pengenalan Video Assistant Referee (VAR) pada awalnya menandai titik balik yang signifikan dalam sejarah permainan sepak bola dalam mengatasi kontroversi. Sekaligus memastikan keadilan dalam permainan yang indah.
Ternyata sepakbola modern dengan menyertakan teknologi Video Assistant Referee (VAR) sejak diperkenalkan di dunia sepakbola bukan tanpa masalah.
Teknologi ini digagas meningkatkan akurasi keputusan wasit dengan memungkinkan tinjauan video atas insiden penting dalam pertandingan dan membantu menghasilkan keputusan yang lebih tepat dan mengurangi kesalahan wasit tetap saja menyisakan masalah.
VAR yang berpotensi negatif yang memungkinkan wasit untuk meninjau kembali insiden penting dan memastikan keputusan yang tepat diambil tetap saja menimbulkan konflik kepentingan.
Bukti visual VAR membantu wasit membuat keputusan dalam situasi yang sulit dilihat dengan mata telanjang dan melihat tayangan dalam memahami proses pengambilan keputusan wasit tergantung pada interpretasi subjektivitas wasit dan asisten VAR. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pegila bola, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


