
Oleh Ridhazia
Politik disetir media atau politik menyetir media dua hal yang berbeda. Tapi kecenderungan ini berpangkal pada hal yang nyata di Indonesia bahwa kepemilikan media untuk memenuhi ambisi politik pemiliknya melalui afiliasi dengan partai politik.
Pada gilirannya, media dalam lanskap politik Indonesia tidak lagi berfungsi sebagai ruang ekspresi dan diseminasi gagasan dan opini. Juga telah jauh bergeser menjadi agen propaganda dan manipulasi opini.
Kepemilikan media di Indonesia dalam konteks politik kontemporer mempertegas dirinya untuk personalisasi tokoh dan pencitraan politisi yang didukungnya. Media di tangan para pemilik media yang juga politisi berubah menjadi ruang kontestasi pemaknaan, akselerasi, kesadaran palsu, dan konstruksi opini partisan.
Penguasaan mediamenjadi instrumen pelaksanaan kontrol atas pesan politik di ruang publik. Khususnya untuk menyokongkemenangan elektoral partai. Dukungan para konglomerasi media berkelindan dengan paternalistik oligarki pada gilirannya sangat mempengaruhi konstruksi politik Indonesia.
Hasil penelitian
Penelitian “Kepemilikan dan Afiliasi Politik Media di Indonesia” (2023) yang berfokus mengeksplorasi spektrum kepemilikan media dan afiliasi politik dimaksudkan secara khusus menjawab bagaimana lanskap kepemilikan media dan afiliasi politik praktis yang mendisrupsi nalar kewarasan publik.
Dan, faktanya berdasarkan penelitian ini kalau ekosistem media belakangan telah disesaki para konglomerat — yang tidak punya akar historis ideologis dan keterampilan praktis dalam mengelola media — memicu kontruksi baru media partisan, ketimbang publik interes. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


