
Oleh Ridhazia
Marah itu alternatif untuk hidup sehat lahir batin. Bahkan ada hubungan alternatif bertahan hidup. Dan, marah pun sesungguhnya menunjukan keberadaban seorang manusia.
Kesejatian marah
Kesejatian marah bukan sebatas melepaskan kekesalan dan kejengkelan. Tapi pemenuhan kebutuhan manusiawi. Yakni untuk mengidentifikasi diri sekaligus menemukan akar atau sumber masalah.
Sejumlah penelitian telah membuktikan, marah pun menjadi pemicu baik yaitu menemukan alternatif solusi. Berbagi pemecahan hingga mempercepat keputusan.
Adalah Linschoten yang menulis bahwa perasaan manusia terbagi menjadi tiga, yakni suasana hati, perasaan, dan emosi. Emosi yang meliputi perasaan takut, sedih dan senang dan marah.
Mengapa marah
Respon emosional dan intensitas marah seseorang atas orang lain karena terlalu kuat stimulus dari luar yang dianggap sebagai ancaman, ketidakadilan, atau pelanggaran terhadap nilai-nilai pribadi seseorang. Semisal dihinakan, dinistakan, direndahkan, diabaikan dan diperlakukan buruk lainnya.
Diidentifikasi, terdapat tiga ekspresi marah. Ada kemarahan spontan (anger-out), yakni kemarahan yang muncul secara spontan dan cepat yang lazim ditandai dengan teriakan, makian yang ditujukan kepada objek kemarahan.
Ada pula kemarahan yang dipendam (anger-in) yakni kemarahan yang cenderung dirasakan dan dirahasiakan. Juga ada ekspresi kemarahan menggerutu (mood incongruent speech) yakni mengungkapkan kemarahan dengan suara ngomel. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


