Kolom Sosial Politik

Cerdas Politik Menjadi PENDENGAR

64views

 

Oleh Ridhazia

Ikhwal mendengar dan didengar ini menjadi perhatian publik ketika debat bakal calon wakil presiden dikaitkan dengan kecerdasan beretika. Tafsir ini melebar menjadi kontroversi politik di media sosial. Bahkan berimplikasi pada sentimen publik.

Dalam studi psikologi, kecerdasan itu tidak tunggal. Melulu bersandar pada seberapa banyak angka IQ yang berhasil diperoleh setelah menjalani tes. Tapi terbentuk dari pengalaman dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan waktu.

Pendengar

Menurut riset oleh psikoterapis dan pelatih karier yang berbasis di New York, Amerika Serikat dikatakan seseorang itu cerdas bisa diukur ketika seseorang terbiasa menjadi pendengar yang aktif.

Dikelompokkan sebagai pendengar aktif jika ia bukan dari sekadar duduk diam saat seseorang berbicara. Tetapi juga serius untuk memahami dan merespons dengan pertanyaan, kontemplasi dan berpikir skeptis tanpa harus menyela sampai lawannya selesai bicara.

Jalan sukses

Kecerdasan jenis ini lazim dilakukan sejumlah pejabat karir yang berkedudukan tinggi. Juga para pengusaha sukses. Keterampilan mendengarkan secara aktif ini menopang kesuksesan karena berfungsi untuk menghargai relasi dan meningkatkan kepercayaan.

Mendengar aktif juga dilakukan para peraih kesuksesan diri untuk menghindari hubungan yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan rusaknya pertemanan serta hubungan kerja.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response