
Oleh Ridhazia
Diberitakan, sejumlah profesor menyampaikan petisi kepada pemerintah. Sikap kritis pada akademisi ini merespons situasi politik menjelang pilpres 2024.
Para guru besar dari UGM, UIN, Unmul, dan terakhir UI — mungkin memancing sikap serupa dari perguruan tinggi lainnya — menyoroti perebutan kekuasaan akhir-akhir ini melampaui koridor demokrasi yang etis.
Di Indonesia petisi sebagai bentuk ketidakpuasan, sekaligus media kritik dan saran akibat kebijakan pemerintah itu dijamin konstitusi. Bahkan petisi memiliki daya paksa untuk direspon penguasa untuk memahami perbedaan, permasalahan, dan persoalan yang terjadi dari perspektif para cendikia untuk perbaikan dan perubahan subtansial.
Sang Resi
Profesor itu kerap dianggap resi karena dianugerahi kelebihan ilmu dan keahlian. Ia juga representasi seseorang yang arif dan bijaksana.
Resi disebut juga begawan ini — dalam cerita pewayangan ditokohkan oleh Abiyoso — diposisikan terhormat karena sikapnya yang rasional, obyektif dan terbuka bagi pencarian kebenaran dan tetap independen. Selain dipercaya berani mengambil langkah-langkah yang berani karena benar.
Atribut resi dan begawan bagi profesor karena pemikirannya dapat memperluas sudut pandang. Ketika mengungkapkan fakta yang ada, para profesi dianggap sudah memilih argumen yang logis, mendeteksi bias dengan sudut pandang yang berbeda karena perbedaan kepentingan. Juga memilih tidak menjadi partisan politik yang memihak kepentingan sesaat.
Itu sebabnya menurut Robert Ennis seorang filsuf Amerika sekaligus tokoh terkemuka pemikiran kritis menyebut berpikir kritis sebagai penalaran mengenai keyakinan dan tindakan yang masuk akal. Juga berfokus pada apa yang dipercayai atau apa yang dapat dilakukan.
Berpikir kritis ala profesor kata Michael Scriven profesor ahli ilmu perilaku dari Claremont Graduate University merupakan proses disiplin intelektual buka hanya terampil membuat definisi dan konsep akademis. Juga menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan/atau mengevaluasi informasi melalui dialogi dengan fenomena. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


