Kolom Sosial Politik

Jurnalisme Investigasi : DIRTY VOTE

76views

 

Oleh Ridhazia

Film pendek semi dokumenter   Dirty Vote menggemparkan jagat politik nasional. Pasalnya, film berdurasi 1 jam 57 menit produksi WatchDoc itu dikemas dalam jurnalistik investigasi tentang perselingkuhan politik.

Dalam film ini instrumen kekuasaan diklaim telah digunakan untuk menabrak dan merusak tatanan demokrasi. Semua itu dikonstruksi berdasarkan narasi pemikiran tiga aktivis hukum. Yakni Bivitri Susanti pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK), Feri Amsari, akademisi dari Universitas Andalas, Padang dan Zainal Arifin Mochtar, pakar HTN dari UGM Yogyakarta.

Sedangkan sang sutradara adalah Dandhy Dwi Laksono. Ia jurnalis investigasi berpengalaman membuat film jenis yang juga muncul di ambang kontroversi yakni film dokumenter berjudul  Seks Killer yang bercerita tentang keterlibatan para pemilik saham perusahaan pembangkit listrik yang berperan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Sejak itulah alumni Hubungan Internasional Unpad menanjak namanya sebagai jurnalis papan atas di negeri ini. Ia juga dianggap semakin matang setelah mendalami Program on Broadcast Journalist Covering Conflict, di Ohio Univesity Amerika Serikat (2007) dan British Council Broadcasting Program, London (2008).

Sebelumnya wartawan biasa. Bahkan menjadi stringer di radio ABC Australia selain menjadi jurnalis berita di RCTI dan SCTV juga media cetak nasional.

Menguak rahasia

Sebagaimana film dokumentasi politik, film pendek Dirty Vote  mengajak publik menyimak tanpa paksaan sederetan fakta dan data untuk diterima atau ditolak secara intelektual sebagaimana film serupa yang dibuat di pelosok negeri lain

Jenis ini mengingatkan kembali pada praktek jurnalisme investigasi yang paling populer di awal abad 20. Yakni film All The President’s Men tahun 1976 yang dinarasikan dalam layar besar berdasarkan novel karya jurnalis Bob Woodward dan Carl Bernstein. Keduanya dikenang sebagai jurnalis yang menyelidiki skandal Watergate untuk koran Washington Post.

Lebih jauh lagi mengingatkan kembali jejak sejarah jurnalistik investigasi yang pernah dilakukan Benyamin Harris (1699). Sang wartawan yang dikenang dalam sejarah pers dunia karena membongkar skandal penyalahgunaan kekuasaan pada era kolonial Inggris.

Asal-Usul

Istilah jurnalistik investigasi muncul pertama kali dari Nellie Bly ketika menjadi reporter di Pittsburg Dispatch (1890). Sedangkan asal kata jurnalisme investigasi — dari bahasa Latin, yaitu journal sebagai kegiatan jurnalistik dan vestigium yang berarti jejak kaki — adalah pelaporan peristiwa yang dikonstruksi dari detail data dan fakta. Digali dari bagian terdalam dari suatu peristiwa yang dianggap memiliki kejanggalan dan rahasia. Terutama yang berpotensi penyalahgunaan kekuasaan tapi tertutup sangat rapat.

Jurnalis investigasi ibarat intelejen militer sekaligus akademisi multi talenta yang selalu siaga dan skeptis pada setiap fakta dan data sehingga menuntunnya mendalami peristiwa itu sampai ke akar permasalahan. Tapi ketepatan waktu dan relevansinya, selain detail dan keakuratannya tidak boleh diabaikan. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response