Kolom Sosial Politik

Ikhwal MENILAI

30views

 

Oleh Ridhazia

Kini berkembang kebiasaan menilai orang lain dengan standar pengalaman sendiri. Padahal “siapa sih dirimu” jika dibandingkan dengan orang lain. Bukan saja dirimu berbeda usia, juga berbeda pendidikan. Bahkan berbeda pengalaman hidup. Tak terkecuali berbeda prestasi.

Padahal sebagai seorang yang juga tidak sempurna, mungkin lebih buruk dan busuk daripada yang lain, sama sekali tidak ada alasan untuk menilai siapa pun orang lain. Apalagi kemudian menghakimi dengan label-label buruk. Seakan tidak pernah ada kebaikan yang tersisa padanya.

Kehilangan rasa cinta!

Jikalau terbesit kebencian yang tidak termaafkan, hal itu tetap saja tidak sepantasnya dilakukan. Apalagi dengan semua penilaian buruk lantas dengan sengaja dan sadar menyebarluaskannya keburukan itu ke ruang publik hingga seseorang itu terpuruk.

Adalah Thomas Fuller yang berpendapat hanya orang bodoh yang selalu menilai orang lain. Selain akan kehilangan kesempatan untuk mencintai. Kebiasaan menilai orang adalah cara tercepat menuju permusuhan abadi.

Katanya, ” setiap kali saya menilai orang lain, saya tengah menemukan bagian yang belum disembuhkan dari diri saya”. Dan, makin sedikit penilaian yang bisa dilakukan, semakin baik diri ini. *

* Ridhazia, dosen senior FIdkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response