
Oleh Ridhazia
War Takjil dalam terjemahan bebas sebagai Perang Takjil sedang menjadi topik hangat di berbagai plattform media pada Ramadhan tahun ini. Sama halnya kata bukber (buka bersama) yang juga populer beberapa tahun lalu. Keduanya bahasa gaul generasi terbaru.
Yang dimaksud War Takjil sesungguhnya hanya sebatas berebut kesempatan untuk membeli dan menikmati kudapan takjil menjelang buka puasa. Bukan hanya antri panjang untuk membeli secangkir cendol, kurma atau kopi. Juga berdesak-desakan. Pasalnya suasana menjelang magrib itu juga dinikmati oleh yang bukan yang muslim.
Fenomena Toleransi.
Fenomena War Takjil sebagai sisi baik. Malah ditafsirkan sebagai wujud kongkrit toleransi antar umat beragama. Sekaligus mematahkan isu miring yang mengatakan bahwa di negeri ini masih ada kaum hangat berdamai atas perbedaan agama dan keyakinan.
Asal-Usul.
Dalam ajaran Islam menyegerakan berbuka puasa telah disunahkan. Itu sebabnya kata takjil yang diambil dari bahasa Arab ‘ajjala yakni menyegerakan atau mempercepat.
Tetapi dalam kenyataanya takjil berubah dipahami sebagai kudapan yakni minuman dan makanan ringan berbuka puasa sebelum makan yang sesungguhnya.
Adalah orientalis Snouck Hurgronje (1857-1936) dalam artikel “De Atjehers” (1891) yang yang pertama menyebut kata takjil yakni tradisi berbuka puasa di Aceh. Menu yang wajib ada antara lain makanan lokal dan khas yakni bubur pedas yang terbuat dari beras ketan, pisang, santan, garam serta gula.
Ternyata tradisi takjil juga sudah ditemukan pada jamaah Muhammadiyah di Yogyakarta pada awal abad ke-19. Kolumnis sekaligus aktivis Muhammadiyah Abdul Munir Mulkhan menuliskannya dalam buku berjudul “Ahmad Dahlan: Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan”.
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


