
Oleh Ridhazia
“Melati dari Jayagiri” lagu yang sulit dilupakan. Begitu juga dengan sang pencipta Ir Iwan Abdulrachman. Alumni Unpad ini kini berusia 76 tahun. Lahir tahun 1947 di Sumedang. Hingga sekarang masih sehat dan bugar.
Lagu dan lirik “Melati dari Jayagiri” diciptakan di puncak Gunung Jayagiri pada Maret 1968. Tapi meski sudah lawas –sampai sekarang lebih 57 tahun — syair dan liriknya masih tetap menghanyutkan perasaan para penyukanya. Apalagi kala dilantukan Bimbo legendaris dari Bandung.
Pesan lagi dan syair “Melati dari Jayagiri” begitu kuat dan mendalam. Juga ekspresif. Padahal bukan lagu cinta pasangan dua insan manusia biasa. Tapi berkisah tentang pohon-pohon yang memeluk kala kedinginan dan ketakutan. Dan, saat di tengah hutan itu pohon-pohon rindang seakan yang memberi perlindungan.
Simak saja :
“Melati dari Jayagiri
Kuterawang keindahan kenangan
Hari-hari lalu di mataku
Tatapan yang lembut dan penuh kasih
Kuingat di malam itu
Kau beri daku senyum kedamaian
Hati yang teduh dalam dekapan
Dan kubiarkan kau kecup bibirku…”
Para penikmat musik akan dibuat takjub. Tapi maestro lagu-lagu alam ini dengan rendah hati mengaku tidak bisa bikin lagu. Situasi batin, dan pengalaman perenungan yang memaksanya hingga harus menulis syair dan lagu.
Siapakah dia
Sosok lelaki ini sejak awal namanya populer adalah aktivis organisasi volunteer asal Bandung yang berdiri tahun 1964 yakni Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri.
Ia sangat menyukai alam yang cukup ekstrim, sulit, dan berbahaya. Perjalanan mendaki gunung dan hutan Papua bersama-sama prajurit Kopassus dalam ekspedisi pembebasan peneliti asing di hutan Papua tahun 1996 menjadi pengalaman istimewa.
Untuk menopang kesukaannya, ia pernah mengikuti kursus ketentaraan di Long Range Patrol di Long Range Patrol School Alabama, Amerika Serikat tahun 1986
Kini diusia tidak muda lagi ia memilih menjadi pemboseh sepeda yang tak kalah ekstrim. Pernah melakukan perjalanan dari Aceh hingga Bandar Lampung. Bahkan pada saat memasuki usia 70 tahun bersepeda dari Bandung ke Bali.
Di manakah Jayagiri..
Saya sekeluarga, beserta dua cucu pernah merapat ke puncak Jayagiri. Bukan sekadar berkemah. Juga menikmati hamparan pemandangan dari bukit di kaki selatan Gunung Tangkuban Perahu.
Ketinggian gunung yang melegenda ini 1.250 meter d iatas permukaan laut (dpl). Kontur topografinya bergelombang dengan kemiringan lintasan hiking berkisar antara 5 derajat hingga 45 derajat.
Puncak Jayagiri berada di kawasan Gunung Sunda Purba yakni cikal bakal Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Bukit Tunggal, Gunung Burangrang, dan Gunung Putri. Gunung purba ini meletus sekitar 500.000 tahun lampau itu menyebabkan danau purba yang sekarang menjadi Bandung.
Cagar Budaya Junghuhn
Jayagiri sekarang menjadi cagar budaya. Selain menjadi tujuan wisata alam. Di sini ada Taman Junghuhn sekaligus peristirahatan terakhir Franz Wilhelm Junghuhn seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog kelahiran Mansfeld, Jerman tahun 1809 yang memilih jalan sepi dan menjadikan Jayagiri sebagai rumah keduanya hingga akhir hayat tahun 1864. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


