
Oleh Ridhazia
Ambivalen berpolitik menjadi isu miring seusai pilpres 2024. Atasnama kredo: “tidak ada kawan dan lawan abadi” sejumlah politisi cawe-cawe merapat ke istana. Ingin menjadi bagian kekuasaan. Jauh lebuh tergiur untuk bergabung sebagai elit penguasa. Ketimbang memilih jadi oposisi yang terhormat.
Sikap politik itu tentu saja bisa dimaklumi dengan dalih untuk menjaga keseimbangan di parlemen. Meski untuk sebagian rakyat yang telah berkeringat-keringat bahkan berdarah-darah menjaga perbedaan, sikap elite politik yang manggung pada pilpres 2024 itu sebagai perilaku ambivalen yang sangat mengecewakan. Bagaimana mungkin suara rakyat diperjualbelikan bahkan diobral begitu saja hanya untuk memenuhi hasrat berkuasa.
Jual beli suara rakyat oleh elit politik itu bukan saja melemahkan demokrasi kerakyatan. Juga menjadi hantu yang menakutkan. Jauh lebih berpotensi abuse of power yaitu penyalahgunaan kekuasaan. Sebuah suasana yang terlalu terkonsentrasi di istana tanpa kontrol dari oposisi yang kuat.
Kata Albert Einstein
Fenomena politik di negeri yang karut marut usai pilpres 2014 ini sama persis dengan dugaan fisikawan Albert Einstein (1879-1955) yang menyatakan politik sesuatu yang tidak pasti dan tidak bisa diprediksi. Katanya “jauh lebih rumit daripada fisika.”
Pernyataan itu bisa dimaknai politik itu sebagai ketidakpastian (uncertainty) sebagaimana hukum fisika yang terstandarisasi. Politik itu sebagai perubahan dengan probabilitas kejadiannya sendiri yang tidak diketahui secara pasti. Bahkan lebih kerap meleset dari semua kalkulasi dan dugaan.
Jangan dipercaya!
Politisi asal Jerman Otto Von Bismarck (1815-1889) begitu sangat pesimistis dan skeptis dengan politik pernah berkeyakinan bahwa bukan lahan pengabdian yang diidealkan. Terlalu penuh intrik dan busuk. Politik itu kejahatan terselubung.
Katanya : “Jangan pernah mempercayai apa pun dalam politik sampai hal itu resmi diingkari.” *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangab, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


