Kolom Mahasiswa
Oleh: Widi Dwi Haspiani
DI zaman sekarang ini, kepedulian masyarakat terutama di kalangan remaja terhadap kesehatan mental semakin meningkat. Banyak ditemui di media sosial atau bahkan obrolan mereka sehari-hari bahwa mereka mulai peduli terhadap situasi kejiwaan dirinya dan orang lain.
Misalnya saja ketika muncul sebuah kasus tertentu, maka akan ada banyak orang yang membahas kasus tersebut dari segi kejiwaan. Contoh lain para remaja, setelah mereka belajar giat untuk menghadapi ujian, mereka akan pergi berjalan-jalan setelah selesai ujian.
Keadaan seperti ini sejujurnya sangat patut untuk disyukuri. Karena dengan begitu, kondisi kesehatan mental masyarakat bisa sedikit terjamin. Masyarakat jadi memahami bahwa yang penting bukanlah kesehatan fisik saja, namun kesehatan mental pun harus tetap dijaga.
Membahas mengenai konformitas menurut Brehm dan Kassin (2012) merupakan kecenderungan individu untuk mengubah persepsinya atau perilakunya agar sesuai dengan norma kelompok yang ada. Bahasa mudahnya adalah “ikut-ikutan”.
Tindakan konformitas ini membuat remaja jadi hanya bertindak ketika ada orang lain di kelompok mereka juga bertindak, mereka akan ikut-ikutan.
Banyak keadaan menyebabkan para remaja saat ini berada dalam posisi yang dilematis karena tidak mampu mengambil keputusan, ini menjadi salah satu akibat dari konformitas pada remaja. Jika ada orang lain dalam kelompok atau kelompok ternyata mampu mengambil keputusan yang dirasa benar maka dirinya akan ikut serta agar dianggap benar.
Dari konformitas pada remaja berdampak negatif, bisa dilihat mengenai hal-hal negatif yang ada didalam kehidupan sehari-hari. Misalnya berperilaku yang menyimpang, menghambat kreatifitas berfikir dan kurangnya informasi tentang bagaimana berperilaku yang baik dan bagaimana mengambil keputusan sendiri.
Widi Dwi Haspiani, mahasiswi Prodi Jurnalistik Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, bermukim di Kota Bandung, Jawa Barat




