Kolom Sosial Politik
Oleh: Ridhazia
KEMENANGAN atas Thailand U-22 itu sangat berarti untuk Indonesia. Sebab medali emas dari sepakbola SEA Games 2023 ini bukti pengulangan prestasi terhormat setelah prestasi serupa terakhir kali diraih pada 1991.
Artinya pula kemenangan pebola nasional di jagat Asia Tenggara ini sebagai prestasi terpuncak selama era reformasi sejak tahun 1998. Tepatnya setelah 32 tahun tidak pernah mengantongi medali emas. Dan, puncak prestasi itu menjadi hadiah terindah itu justru diberikan oleh Indra Sjafri mantan pegawai pos Indonesia yang kini sudah berusia 60 tahun.
Siapakah Indra?
Publik tidak banyak mengetahui kalau pelatih yang membawa nama harum Indonesia pada ajang persepakbolaan Asia Tenggara sudah berkeringat-keringat sebelumnya.
Komitmen pada bola bundar itu diawali sejak dari SMA ketika pertama kali merumput secara profesional dengan PSP Padang. Namanya tidak terlalu populer di ajang nasional, kecuali ketika gilirannya menjadi pelatih Bali United. Sebelumnya ia menjadi pegawai pos.
Ketika menangani timnas, pelatih Terbaik 2014 versi Komite Olimpiade Indonesia menjadi pelatih lokal yang menghadiahi Tanah Air melalui tiga gelar juara di kelompok usia Timnas U-19 dan dua kali bersama Timnas U-22.
Kepelatihan Indra Sjafri dimulai tahun 1997 ketika pertama kali mendapat lisensi C AFC, kemudian naik bertahap ke level B pada 1998 dan A pada 1999. Pada 2010, Indra mengikuti kursus penyegaran pelatih dalam program FIFA Futuro. Di tahun yang sama pula, Indra mengambil lisensi A AFC Instruktur Akar Rumput FIFA.
Tokoh Perubahan Republika Bidang Olah Raga Sepak Bola tahun 2013 ini sempat menjadi asisten Shin Tae-yong pada awal 2020, namun kerap keduanya berselisih. Buntut kekisruhan itulah PSSI selanjutnya menunjuk dia menjadi Direktur Teknik PSSI hingga sekarang lalu. Selain menjadi pelatih Timnas Indonesia U-22 di SEA Games yang membawa berkah.
Filosofi Pepera
Publik jarang mengetahui kalau Indra Sjafri pelatih yang mengembangkan sepakbola dengan rasa nasionalisme yang tinggi. Disiplin ala militer penuh disiplin menjadi ciri khasnya. Selain filosofi Pepera (pendek-pendek-panjang) yang ia ciptakan sendiri dari pengalaman sebagai pelatih.
Kehormatan Indra Sjafri tentu saja akan dikenang dalam sejarah sebagaimana pernah dicapai pelatih legendaris “Sang Pendeta” Biertje Matulapewa (1941-2002) yang dulu berhasil mempersembahkan medali emas pada ajang SEA Games 1987.*
Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim di Panyawangan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





