Opini

Majalah Mangle Edisi Januari 1967 dan Puluhan Media Cetak Sunda

423views

Kolom Media Lawas
Oleh: Kin Sanubary

MAJALAH Mangle merupakan majalah berbahasa Sunda yang terbit sejak 21 November 1957 di Kota Bogor selanjutnya Mangle diterbitkan dari Kota Bandung. Adapun para pendiri Majalah Mangle yaitu Oetoen Moechtar, E Rohamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Saleh Danasasmita, Utay Moechtar dan Alibasah Kartapranata. Mangle kini menjadi satu-satunya majalah berbahasa Sunda yang masih terbit dan beredar.

Majalah Mangle terbitan bulan Januari 1967 tampil dengan Sekar Mangle (cover story) Enden Heni Mojang Priangan asal Kota Hujan Bogor, untuk harga eceren Mangle ketika itu Rp 12,50 per-edisi.

Mangle terbitan 66 tahun silam mengumumkan para pemenang lomba menulis Carpon ’66 (carita pondok) sebuah lomba karya tulis yang setiap tahun diadakan oleh Majalah Mangle. Para pemenang lomba menulis carpon tersebut yaitu : 1) Saliara Sisi Jami karya Saleh Danasasmita 2) Di Cindulang Aya Kembang karya Aam Amilia 3) Panganten Mindo karya Ahmad Bakri 4) Malati Ligar Na Ati karya Ningrum D 5) Kiayi Pikun karya SA Hikmat

Mangle dan Media Cetak Sunda

Menurut redaktur Majalah Mangle, Abdullah Mustappa yang merujuk pada tulisan Roesjan, media cetak Sunda yang pernah terbit yaitu : Sunda Almanak (1894), disusul Panemu Guru (1906), kemudian Papaes Nonoman (1914), Panungtun Kamajuan (1918), Pajajaran (1918), Volksamanak Sunda (1919), Siliwangi (1920), Pusaka Sunda (1922), Sipatahunan (1923), Pasundan (1929), Parahiangan (1929), Panggeuing (1929) dan banyak lagi.

Pada saat penjajahan Jepang, media cetak berbahasa Sunda ikut terpuruk, media cetak Sunda tidak ada yang terbit ketika Jepang berkuasa. Pemerintahan militer Jepang melarang penggunaan Bahasa Belanda juga penggunaan Bahasa Sunda. Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, media cetak Bahasa Sunda terbit kembali dan mengalami masa kejayaan pada era tahun 1950-1970-an.

Ada puluhan media cetak berbahasa Sunda yang terbit dan beredar diantaranya yaitu : Pajajaran (1949), Panghegar (1952), Warga (1954), Candra (1954), Kiwari (1957), Mangle (1957) Sari (1963) Sangkuriang (1964) Campaka (1965), Kutawaringin (1966), Baranangsiang (1966), Pelet (1966).

Pada saat ini media cetak yang masih terbit yaitu Mangle dan Galura. Sebelumnya ada Cupumanik, Seni Budaya, Ujung Galuh, Sunda Midang, Bina Da’wah, Iber, Balebat, Hanjuang Bodas, Logay, Panggugah dan Sampurasun.

Majalah Mangle kini menjadi satu-satunya majalah Bahasa Sunda yang masih terbit. Dari Majalah Mangle lahir para pengarang dan penulis Sunda terkenal seperti Rahmat M Sas Karana, Tatang Sukanda, Us Tiarsa, Deddy Windyagiri dan lain-lain. MH Rustandi Kartakusumah saat menjadi redaktur Mangle dan Gondewa juga mengkaderisasi pengarang Sunda seperti Aam Amilia, Ningrum, Julaeha, Adang S, Eddy D Iskandar, Holisoh ME dan Teti Hodijah. Jumlah Oplah tertinggi diraih Mangle yaitu pada tahun 70-an penjualannya mencapai 150 ribu eksemplar setiap bulannya.

Semoga dengan mengulas kembali majalah lawas Berbahasa Sunda Mangle bisa sedikit bernostalgia ke zaman keemasan media cetak Sunda.*

Kin Sanubary, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Leave a Response