Kolom Sosial Politik
Oleh Ridhazia
JUMLAH follower Facebook kerap dijadikan patokan seberapa baik status dan seberapa terkenal dan disenanginya penulis status di mata publik. Jumlah follower yang loyal melimpah. Bahkan telah menjadi semacam ukuran personal branding. Yakni reputasi baik di hadapan publik.
Apalagi menurut IT media Tech Crunch, sejak 2017 jumlah pengguna Facebook masih yang tertinggi dibanding platform media sosial sejenis lainnya seperti Twitter, Youtube dan Instagram. Sedikitnya lebih dua miliar pengguna.
Bodong
Jika dalam waktu singkat ada ratusan bahkan ribuan me-like sebuah status boleh jadi fakta ini benar. Tetapi juga jangan lantas dipercaya. Sekarang ada jasa untuk menambah follower secara autolikes untuk memback-up akun pribadi. Mudah dan murah. Cukup lakukan pembayaran sesuai invoice, jumlah follower yang diinginkan akan terdeteksi otomatis.
Follower autolike dioperasikan secara otomatis oleh program komputer. Jualan jasa follower ini yang ditawarkan di Indonesia konon sangat diminati kalangan politisi dan selebritas negeri ini. Beberapa di antaranya akademisi yang kebelet ingin populer dan disegani.
Catatan harian
Tetapi banyak pula yang memilih biasa saja. Natural. Menggunakan Facebook sebagai catatan harian. Kanal saja untuk menambah relasi. Selain berfungsi katarsis. Yakni menumpahkan perasaan atau pikiran secara publik. Jika bermanfaat ya syukuri. Tidak pun bermanfaat, mohon maaf saja.*
Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung.





