Oleh Bambang Prakuso.
MENYEDIHKAN — perhatian pemerintah terhadap dunia literasi. Saya mengenal beberapa penggiat literasi yang menghabiskan waktu, tenaga, biayanya sendiri untuk membuka taman-taman bacaan. Bahkan ada yang mengorbankan kepentingan keluarganya.
Namun sayang, pemerintah kurang bahkan tidak peduli. Seolah itu bukan wewenang dan tanggung jawab mereka. Dari ratusan orang, mungkin cuma 1 atau 3 saja yang diberi penghargaan oleh penerintah, agar terlihat seolah pemerintah peduli pada literasi di Republik ini. Padahal ratusan orang menangis darah, karena idealisme mereka. Kok ratusan bukan ribuan? Orang idealis di bidang literasi di Indonesia, bisa dihitung jari.
Membina penggiat literasi dan mengajarkan baca cepat dan efektif, seharusnya ini tanggung jawab pemerintah. Bukan tanggung jawab dan beban rakyat.
Pemerintah punya biaya banyak untuk pembangunan fisik, tapi untuk literasi pelit. Padahal kalau rakyatnya bodoh, infrastruktur yang dibangun dengan dana triliun dan waktu bertahun-tahun, bisa hancur dalam hanya beberapa hari saja.
Masyarakat Indonesia, menganggap membaca bukan bagian yang penting, karena pemerintah sendiri mengesankan membaca memang tidak penting. Sekolah saja menempatkan membaca sebagai kegiatan mubah, bukan wajib.
Kesan saya pemerintah bukan tidak berupaya, tapi upayanya tidak kreatif. kebijakan yang sama dan salah diulang-ulang, tapi ingin hasil yang berbeda. Sampai sekarang, jangankan kecepatan baca, minat baca pun pemerintah tak punya cara untuk mengatasinya.
Penghargaan pada penggiat literasi cuma seremonial saja, dan tak menolong banyak menumbuhkan minat baca, apalagi kecepatan baca. Padahal kemajuan sebuah negara sangat tergantung pada literasinya. Amerika mampu membaca 25.000 k p m, China 100.000 k p m, lah kita cuma 200 kpm. Terkadang kita geleng2 kepala lihat kondisi ini. Mau ketawa takut dosa🤣.
Dunia literasi kita sangat memprihatinkan. Seolah semua tutup mata dan balik badan.
Padahal kalau kita kreatif dan cerdas, ikuti saja cara Thailand, wajibkan siswa baca buku. Kuasai ilmu membaca efektif (Thailand gunakan mind mapping), selesai. Biaya minim. Coba survei yang benar dan jujur, angka kenaikan minat yang dikeluarkan pemerintah, saya yakin fiktif, apalagi kl cuma dihitung dari jumlah pengunjung taman bacaan.
Jangankan siswa dan guru, staf perpustakaan saja banyak yang tidak tahu baca cepat. Apalagi mendorong masyarakat punya pengetahuan itu. Padahal kalau mereka tahu, buku tak perlu dibawa pulang, dalam sehari pengunjung perpustakaan bisa baca 5 atau 10 buku. Ini akan meningkatkan minat baca secara drastis.
Jadi kuncinya ajari mereka dulu membaca cepat dan efektif, baru minat baca muncul. Baca itu harus dipaksa, kalau menggunakan teknik persuasif atau bujukan, Indonesia gak bakalan berhasil.
Fakta di negara maju, sekolah diwajibkan baca. Ketika membaca diwajibkan, barulah mereka mencari cara, bagaimana membaca cepat dan efektif. Baru dorongan muncul.
Kalau pemerintah melaksanakan kewajibannya saja tidak tahu, bagaimana mungkin kita mau menolong kondisi minat baca kita yang semakin terpuruk ini? Apalagi dengan munculnya buku elektronik dan artificial inteligence? Makin hancur saja minat baca kita. Membaca ebook beda dengan buku fisik. Ini harus diajarkan juga. cara membacanya.
Seperti di negara lain, begitu pemerintah mengeluarkan kebijakan wajib baca, otomatis gak usah diinstruksikan, sekolah akan cari tahu cara membaca cepat dan efektif. Apalagi ada target jumlah buku yang harus dibaca oleh siswa.
Teknik baca Cepat Alfateta misalnya, bukan sekadar baca cepat biasa, tapi ada alat ukur peningkatan minat dan kecepatan membaca yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.
Kalau sudah itu kita lakukan, kita bisa mengirimkan wakil kita, ikut kompetisi baca cepat tingkat dunia. Dunia akan perkaget-kaget melihat Indonesia, negara yang dulu minat baca paling rendah di dunia, sekarang bisa tampil berkompetisi baca cepat di tingkat di dunia.
Einstein berkata, orang yang melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang, namun ingin mengharapkan hasil yang berbeda. itu sama dengan orang tidak waras🤣. Rocky Gerung bilang itu dungu.** ( Penulis Pelatih Super Speed Reading metode Alfateta.)





