Kolom Mahasiswa
Oleh Sista Devi Carolin
BENARKAH manusia gagal menjaga bumi? Setelah membaca dengan teliti, asumsi saya ternyata tepat. Dari beberapa responden yang ditanyai sepintas menjawab setuju. Artinya, manusia gagal menjaga bumi. Dikatakan gagal karena manusia belum mampu mempraktikkan kebiasaan hidup yang ramah lingkungan. Padahal, manusia merupakan makhluk yang potensial untuk mengubah situasi tersebut menjadi lebih baik.
Kita perlu jujur di hadapan alam dan lingkungan semesta bahwa di dalam perasaan kita, ada penyesalan dan kesedihan atas apa yang tengah terjadi di alam. Kita gagal memosisikan diri sebagai representasi Sang Pencipta untuk menjaga dan merawat alam dengan keterkaitan dan keterikatan ilahi.
Kita lebih senang menghidupi paham warisan bahwa ”manusia adalah tuan atas ciptaan” dengan segala kekuasaan khususnya. Kita telah lama menjadikan diri sebagai pusat atau penting segala proses di bumi. Sementara, makhluk nonhuman adalah elemen pelengkap dan pendukung yang kurang bernilai. Akhirnya, kita terlibat dalam “penghancuran diri”. Kita merusak alam bumi tanpa tahu batasan. Rasio kita menjadi semakin sempit dan moralitas menjadi semakin tumpul.
Apalagi, ketika kita tidak mampu menahan diri untuk tidak tergoda kepada hedonisme dan konsumerisme yang menguras isi bumi. Teknologi memaksa kita untuk mengeksploitasi dan mengeruk alam. Teknologi menjadi tuan di atas kita. Di hadapan kemajuan itu, kita menjadi pembawa, mengatur, menguasai, dan mengontrol alam untuk dieksploitasi. Nilai intrinsik dalam alam semakin diabaikan.
Atas keadaan tersebut, langkah awal yang harus kita perjuangkan dengan sangat serius adalah membarui pola pikir dan gaya hidup sebagai ”tuan atau penguasa” menuju kesadaran ”saudara seciptaan” dan sepencipta. Kita juga harus mampu mengubah posisi dari hamba teknologi menjadi tuan atas teknologi serta menghargai nilai intrinsik ciptaan. Eksploitasi alam itu tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga merusak kesehatan dan infrastruktur, seperti akses jalan rusak parah akibat seringnya dilewati truk-truk pasir melebihi beban di jalan.
Setelah pola pikir diperbarui, kita perlu membarui spiritualitas. Apalagi, sebagai makhluk yang rohaniah, kita memiliki potensi untuk peka terhadap apa yang terjadi di luar diri.
Sebab, alam bumi merupakan satu komunitas yang berkesinambungan karena hadir Sang Pencipta dalam setiap ciptaan-Nya. Untuk itu, generasi muda harus sungguh dipersiapkan dengan cepat dan matang. Kita semua perlu memberi perhatian yang serius. Komitmen harus dipegang dan diwujudnyatakan agar alam lingkungan hidup terjaga. Juga pemanasan global warming yang tengah terjadi tidak berubah menjadi global warning bagi kita.
Mari kita berbuat sekali lagi sebab sampai sekarang kita belum berbuat apa-apa. Kita masih perlu ”berbuat sekali lagi” terutama dalam menjaga bumi ini. Usaha untuk memperbaiki dan menjaga bumi sudah ada. Hanya, usaha itu masih kurang disadari, kurang dimaknai, dan kurang ditekuni. Untuk itu, sudah saatnya kita menyatukan diri dengan alam bumi.
Alam bukanlah obyek kekuasaan, kesenangan, dan foya-foya. Jauh lebih mulia, alam adalah saudara-saudari bagi kita yang ”sekali lagi” harus kita jaga dan hargai eksistensinya. Hingga kita berhasil menjaga alam bumi dengan indikator atau indeks prestasi yang baik.*
Sista Devi Carolin, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan, tinggal di Kota Bandung.





