Kolom Sosial Politik
Oleh: Ridhazia
KALAU lebaran koq fashionable. Tampil serempak dan seragam. Warna baju dari nenek dan kakek hingga buyut dan cicit sama. Padahal dalam keseharian biasa saja.
Ternyata..
Dari perspektif psikologi keseragaman berbusana dalam suatu keluarga dipercaya menuntun pada pentingnya penampilan fisik penggunanya sebagaimana ungkapan populer ” first impression” yakni untuk memberi efek ekspektasi pencitraan.
Disebut pencitraan karena berpakaian identik dengan keputusan mengubah agar yang tidak terlihat menjadi terlihat. Mengungkap identas siapa diri tanpa harus mengatakan apa pun kepada siapapun (Tucker dan Kingswell dalam Kuruc, 2008:195).
Identitas kelas
“You are what you wear” – kamu adalah apa yang kamu kenakan — menjadi penanda identitas kelas. Setidaknya sebagai praktik reproduktif. Yakni mengkonstruksi dan mereproduksi identitas-identitas seseorang atau sekelompok orang menunjukkan kelas sosialnya. Sekaligus menjadi pembeda antar kelas.*
Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





