Pesan-Pesan Politik KH. Badri Mashduqi untuk Para Anggota DPR RI/DPRD Terpilh
Pesan-Pesan Politik KH. Badri Mashduqi untuk Para Anggota DPR RI/DPRD Terpilh

Oleh Syaifullah,
DALAM– sebuah makalah almarhum KH. Badri Mashduqi yang telah menjadi koleksi lembaga Syaikh Badri Institute atau SBI dengan judul, “Peningkatan Peranan, Fungsi dan Potensi Umat P3 Utamanya Anggota DPR-nya di Semua Eselon,” beliau memberikan pesan-pesan politiknya. Makalah ini diluncurkan pada tahun 1987, yang hemat penulis masih relevan untuk diangkat pada momentum politik menghadapi pemilu tahun 2024. Harapan penulis semoga dari beberapa pesan KH. Badri Mashduqi, pendiri Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo ini, dapat memberikan manfaat dan menjadi motivasi serta inspirasi terutama bagi para anggota DPR, lebih-lebih bagi para anggota DPR yang akan mencalonkan pada pemilu 2024. Berikut pesan-pesan politik KH. Badri Mashduqi:
Pertama, dedikasi kepada kepentingan rakyat. Berdedikasi kepada kepentingan rakyat dalam hal ini bagi KH. Badri Mashduqi, bahwa setiap anggota DPR kita sejak dini wajib menyadari fungsi ganda dirinya yaitu bahwa dia di samping wakil rakyat bukan wakil pemerintah saja bersedia menempatkan dirinya sebagai fungsionaris partai. Sebagai wakil rakyat harus berpegang kepada hadits nabi: Sayyidul qaum khadimuhum, bahwa pemimpin orang banyak adalah sebagai khaddamnya atau abdi pelayannya.
KH. Badri Mashduqi menyatakan, “Berdedikasi kepada kepentingan umat adalah kewajiban setiap anggota DPR, mereka bukan tuan, tapi khaddam umat. Ini harus benar-benar dihayati dan disadari dalam-dalam. Orientasinya jangan cuma ke atas, tapi wajib lebih banyak ke bawah, dia wajib memahami aspirasi rakyat atau umat yang mengangkatnya sebagai wakilnya dan wajib peka dan tanggap dengan segala macam amanat penderitaannya di samping menterjemahkan dan memperjuangkannya di forum yang ditanganinya.”
Kedua, sebagai anggota DPR kita wajib bermental pejuang. Sebagaimana yang dinyatakan oleh KH. Badri Mashduqi, “Sebagai anggota DPR kita wajib bermental pejuang. Seorang pejuang akan selalu bergerak dan berusaha dengan lincah dan trampilnya baik ada dana atau pun tidak ke arah tercapainya cita-cita. Lain halnya dengan orang yang bermental pengusaha, pada ghalibnya (umumnya) baru dia bergerak kalau sudah ada dana. Tentu saja gerak yang dituntut oleh setiap perjuangan adalah gerak yang penuh dinamika dan romantika yang kontinyu dan konstan.”
Dalam konteks ini, KH. Badri Mashduqi menyatakan: “Kita bergerak tidak asal bergerak, tapi ada motor penggeraknya yang amat prinsipil buat perjuangan kita yaitu niat li i’laai kalimatillah, niat memenangkan kalimat tauhid di atas segala-galanya dengan cara melaksanakan prinsip amar ma’ruf nahi munkar kapan dan di mana saja (red.)”
Ketiga, memahami ajaran agama. KH. Badri Mashduqi juga menegaskan bahwa seorang pejuang harus memahami betul-betul ajaran agamanya walaupun hanya melalui bacaan-bacaan buku terjemah di samping merasa komitmen dengan isi AD/ART dan program perjuangan partai yang sepenuhnya.
Keempat, mendalami ilmu politik. Sebagai ulama yang bergelut dalam pendidikan pesantren, KH. Badri Mashduqi menyatakan, “Anggota DPR pada khususnya wajib hukumnya mendalami ilmu politik, ya tentunya tidak keseluruhannya, tapi hanya sekedar bekal dasar buat keberadaan dirinya di dalam forum garapannya yaitu bidang legislatif. Berdosalah mereka kalau sampai melalaikan soal ini.”
Kelima, hobi membaca. Bagi KH. Badri Mashduqi, bahwa menjadi anggota DPR perlu bagi mereka menggalakkan hobi membaca, sebab menurutnya hal ini sangat penting demi lengkapnya argumentasi pada saat memerlukan kegigihan dalam mempertahankan pendapat dalam arena sidang atau forum diskusi atau konsultasi yang menyangkut prinsip-prinsip yang wajib dipertahankan dan diperjuangkannya.** Penulis Ketua Syaikh Badri Institute (SBI) dan PD GPMB Purbolinggo, Jatim, Tinggal di Purbolinggo, Provinsi Jawa Timut.





