
Oleh Ridhazia
Anak ideologis bukan cuma meramaikan jagat politik nasional. Juga jagat dunia. Bukan saja di negara berkembang di Asia dan Afrika. Juga di negara modern di Eropa dan Amerika.
Di Amerika
Amerika Serikat yang dalam konstitusinya mempedomani kalau pemimpin negara harus dihasilkan dari ballot (surat suara) bukan blood (keturunan), senyatanya nyaris serupa dengan negara lain.
Semisal saja Presiden Amerika Serikat ke-41 George H. W dilanjutkan anak ideologisnya George W. Bush sebagai Presiden ke-42. Selain anaknya yang lain Jeb Bush yang juga maju dalam pemilu 2016 tapi kandas.
Jika Hillary Clinton terpilih menjadi Presiden perpolitikan AS ditenggarai melanjutkan Presiden Bill Clinton. Meski dibedakan dengan klan politik Kennedy. Presiden John F. Kennedy ketika menjadi presiden memberikan kursi Jaksa Agung kepada Robert Kennedy dan Ketua Senat Massachusetts untuk Edward Kennedy.
Di Asia
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., adalah anak Presiden Ferdinan Marcos. Kekuasaan diperoleh setelah ia beraliansi dengan anak Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Demikian pula Presiden Cory Aquino adalah istri dari senator Benigno ‘Ninoy” Aquino, Jr..
India juga punya sejarah tali temali keluarga dalam berpolitik. Menurut The Economist, India memiliki dinasti keluarga yang dikuasi oleh Keluarga Nehru-Gandhi.
Jawaharlal Nehru, adalah perdana menteri pertama India (1947-1964). Ia adalah anak dari Motilal Nehru pejuang kemerdekaan India. Sekaligus ayah dari Indira Gandhi lalu diambil alih oleh Rajiv Gandhi, putranya dan cucunya Rahul Gandhi (anak dari Rajiv dan Sonia) tetapi dikalahkan oleh Narendra Modi.
Demikian pula keepemimpinan Pakistan. Benazir Bhutto adalah anak dari Zulfiqar Ali Bhutto. Anak Benazir, BilawalBhutto Zardari melanjutkan trah politik bersama kerabat lainnya.
Dinasti Kim memimpin Korea Utara menjadi pengecualian. Negara komunis ini didirikan Kim Il-sung, yang disebut sebagai ‘bapak negara’ pendiri Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) pada tahun 1948. Lalu diganti Jong-il dan dilanjutkan oleh Kim Jong-un, anak dari Kim Jong-il, sekaligus cucu Kim Il-sung.
Indonesia
Anak ideologi itu keniscayaan dalam berpolitik. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi politisi pelanjut ideologi nasionalis Soekarno. Mungkin saja akan berlanjut hingga Puan Maharani dan Prananda Prabowo.
Politik ala Soeharto juga melahirkan pelanjut antara lain oleh Siti Hardiyanti Rukmana, Tommy Soeharto dan Titiek Soeharto yang bersuami Prabowo Subianto trah politisi Sumitro Djoyohadikusumo.
Politisi Aburizal Bakrie memboyong anaknya Anindya Novyan Bakrie dan Ardiansyah Bakrie memasuki dunia politik di Partai Golkar. Tak ketinggalan dalam Hanafi Rais menjadi anak ideologi Amien Rais. Yang terhangat anak dan menantu Joko Widodo seperti Gibran Rakabumi Raka, Kaesang Pangarep dan menantunya Bobby Nasution juga menjadi politisi.
Muhammad Rasyid Amrullah Rajasa, anak mantan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa kini menjadi Ketua Majelis Penasihat Partai (MPP) DPP PAN dan caleg dari Bandung untuk DPR. Bahkan putri Hatta Rajasa menjadi menantu Susilo Bambang Yudhoyono karena menikahi Edhie Baskoro Yudhoyono. Sedangkan kendali politik partai diserahkan kepada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Tokoh partai politik nasional lain yang melakukan hal serupa seperti Hary Iswanto Tanoesoedibjo yang melahirkan anak ideologi seperti Angela Tanoesoedibjo yang menjadi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Demikian juga Surya Paloh di internal Partai Nasdem melahirkan anak ideologi Prananda Surya Paloh untuk menjadi pelanjut kepemimpinan partai. Partai Amanat Nasional (PAN) yang dinakhodai Zulkifli Hasan meretas jalan baru untuk melanjutkan ideologi politik melalui anak kandungnya Zita Anjani.
Tentu saja terlalu banyak untuk disebut. Antrian panjang keluarga dan kerabat politisi yang bertalitemali merintis jalan untuk menjadi politisi itu sejibun. Dan, dipastikan bukan hanya di tingkat nasional. Juga berasal dari anak keturunan politisi di daerah. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


