Opini

Rental Pacar!

169views

Kolom Sosial Politik
Oleh Ridhazia

ADA-ada saja. Bisnis sewa pacar saat ini kembali laris manis. Inilah bisnis sensasi yang sedang populer di dunia. Tak kecuali di Indonesia.

Di berbagai platform media sosial, bisnis ini dipromosikan terbuka. Dan, dikelola profesional. Penyewa bisa memilih siapa yang paling diminati. Pria memilih pacar wanita. Wanita pilih pacar pria. Semua sesuai dengan standar subyektif.

Akun khusus jasa seperti ini tersebar di berbagai kota besar. Misalnya Yogyakarta, Malang, Bandung, sampai Surabaya.

Offline atau Online!

Bisnis sewa pacar yang ditawarkan antara jasa online dan offline. Layanan online misalnya menjadi teman curhat urusan sekolah atau kuliah hingga ngobrol tentang pacar melalui pilihan video call, atau voice call. Sedangkan jasa offline, antara lain jasa menemani pesta, nonton film atau sekadar ngopi di kafe.

Tarif sewa pacar bervariasi. Tapi relatif murah. Harganya disepakati dalam kontrak. Termasuk durasi waktu sewa. Tentu saja harga jasanya saja. Tidak termasuk biaya transportasi, tiket, atau membayar makanan dan minuman dsb. Penyewa juga harus membayar kelebihan sewa jika melakukan foto bareng.

Sewa rupa..

Di negeri lain, minat terhadap bisnis seperti ini semakin besar. Bahkan dikelola secara profesional. Misalnya di Korea Selatan ada sewa pria-pria mudanya yang dianggap menarik perempuan. Bahkan di Jepang ada jasa penyewaan wanita jelita untuk opa-opa yang sudah menua.

Hanya saja, ini bukanlah jasa layanan seksual. Tapi jasa menemani makan malam romantis, jalan-jalan menyusuri tempat bersejarah dan sebagainya. Biaya sewa itu belum termasuk dengan tiket masuk, makan, dan pengeluaran lain selama perjalanan.

Bagaimana studi dakwah merespons fenomena sosial seperti ini?*

Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Leave a Response