Opini

Satu Abad NU

236views

Kolom Sosial Politik
Oleh Ridhazia

SATU abad bukan waktu singkat. Abad adalah satuan waktu yang digunakan dalam perhitungan matematika untuk menyatakan 100 tahun.

Nahdlatul Ulama ( NU ) telah merayakan seabad usia ormas keagamaan sejak lahir, tumbuh dan berkembang di Indonesia. Artinya, NU yang didirikan pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H di Surabaya, Jawa Timur sudah berusia 100 tahun sejak Hadratussyaikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) sebagai penggagas utama mendirikan ormas ini.

Seumpama Nano-nano

Sepanjangan pengamatan, ormas keagamaan NU dikelompokkan sebagai organisasi inklusif. Yakni ormas yang terbuka pada perbedaan latar belakang kesukuan dan ras. Juga pemikiran dan pendapat.

Kata inklusif itu seumpama permen nano-nano. Ormas NU tumbuh dan berkembang dengan banyak rasa para anggotanya. Rasa yang berbeda-beda dalam organisasi NU ini bisa diamati dari berbagai penelitian oleh media dan peneliti Barat.

Faksi-faksi

NU dipahami oleh media Barat sebagai organisasi yang progresif itu senyatanya juga diidentifikasi sebagai ormas liberal dan pluralistik. Salah satu fakta sejarah munculnya faksi-faksi.Yakni derivasi dua kutub aliran pemikiran yaitu faksi konservatif dan faksi konservatif-liberal.

Faksi konservatif (dari bahasa Latin, conservāre, yakni melestarikan; menjaga, memelihara, atau mengamalkan) nilai-nilai tradisional. Sedangkan faksi konservatif- liberal yakni pemikiran politik yang mencampur antara pemikiran konservatif dengan pemikiran liberal.

Faksi kedua ini berkiblat pada azas kebebasan pribadi dengan mengedepankan demokratis. Mengizinkan entitas NU turut serta aktif dalam perumusan, dan pengembangan organisasi. Tak terkecuali urusan pilihan politik.*

Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Leave a Response