
Oleh Ridhazia
Keunggulan dan keunikannya masing-masing calon presiden bukan satu-satunya menjadi alasan mengapa terpilih. Sukses menduduki jabatan prestisius di sebuah negeri bukan sebatas terpaan kampanye dan debat. Tetapi juga karena pemujaan pendukungnya.
Fanatisme
Pemujaan identik dengan fanatisme akut terhadap idola yang dikenal sebagai Celebrity Worship Syndrome (CWS).
Mengapa sih publik sedemikian fanatik, padahal idola yang dibelanya kemungkinan besar tidak mengenal si penggemar secara personal, menurut sejumlah penelitian psikologi karena ia sesungguhnya “sakit” gangguan jiwa. Kalau tidak gila, mungkin sedang jatuh cinta buta yang kehilangan akal sehatnya.
Parasosial
Adalah Richard Wohl dan Donald Horton dari Universitas Chicago yang pertama kali (1950) memperkenalkan konsep mengenai fanatisme sebagai hubungan parasosial yakni relasi imaginatif satu arah dengan sosok tertentu.
Tahun 2006, David Giles dan John Maltby dari Departemen Psikologi Universitas Winchester, mengidentidikasi hubungan imajiner yang fanatis itu diduga berkorelasi dengan sifat impulsif, egosentris, hingga antisosial.
Dan, puncaknya sang fanatik terjebak fantasi ekstrim yang disebut Borderline Pathological. Ia bukan hanya akan menjadi pemuja. Juga akan menjadi seseorang yang siap pasang badan jika ada yang berkomentar miring mengenai sang idola.
Salah satu ungkapan dalam relasi para sosial antara lain pujian (compliment) adalah “I’m proud of you” yang memiliki arti aku bangga padamu. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


