
Oleh Ridhazia
Belakangan ini kembali populer penyebutan SLOW LIVING. Yakni konsep melambatkan laju kecepatan hidup.
Para penyuka konsep ini berasumsi dengan melambatkan hidup dapat mendorong kenikmatan hidup lebih melimpah. Malah menjadi siasat hidup tidak terjebak rutinitas yang berlebihan. Tapi dengan santai dan senggang apresiasi terhadap semua capaian jauh lebih dalam dan bermakna.
Titik Balik
Konsep ini merupakan titik balik dari kehidupan sebagaimana sering dilukiskan hidup ini seperti naik roller coaster yang serba cepat dengan beban pikiran dan tekanan kerja yang terus datang tanpa jeda yang pada gilirannya justru memanen depresi dan ambisi tanpa batas yang jelas.
Tidak dibawa sulit!
Diidealkan hidup itu tak perlu dibawa sulit tapi pilih secukup saja dengan bijaksana. Belajarlah mengendalikan semua emosi lebih cerdas dengan mengedepankan cukup waktu untuk diri sendiri dan tidak melewatkan momen penting.
Menjaga kepala dingin dan bersabar ditawarkan oleh konsep slow living menjadi alternatif untuk menghindari luapan-luapan emosi yang tidak produktif. Malah justru menambah kekacauan semakin tak terkendali.
Lebih cerdas
Dalam studi psikologi kecenderungan hidup melambat lebih relaks dan tenang. Sangat mungkin bisa dibilang easy going dan cukup mudah berkompromi.
Sebuah studi terbaru yang dilakukan para ahli di Icahn School of Medicine, New York, Amerika Serikat menemukan fakta berdasarkan analisis kinerja saraf bahwa seseorang yang bersikap santai cenderung memiliki daya ingat yang baik dan tajam ketimbang seseorang yang senantiasa memiliki kepribadian neurosis yang kerap tertekan serta mudah panik. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


